Nasib! Angkot Nogosari-Bandara Adi Soemarmo-Kartasura Kian Tersingkir

Sopir angkot trayek Nogosari-Bandara Adi Soemarmo-Kartasura menunggu penumpang di Terminal Nogosari, Boyolali, Minggu (24/2/2019). (Solopos - Nadia Lutfiana Mawarni)
25 Februari 2019 13:15 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Sekitar pukul 11.30 WIB, Sutrisno, 50, masih duduk-duduk santai setelah memarkir angkutan kota (angkot) di terminal Nogosari Boyolali, Minggu (24/2/2019).

Matanya sedikit terpejam tanda mengantuk sambil menunggu penumpang datang. Setelah 30 menit, hanya ada seorang penumpang menyambanginya, seorang kakek 70 tahun yang ingin pergi ke Pasar Mangu, Ngesrep, Kecamatan Ngemplak.

Pasar itu berjarak sekitar 7 km dari Terminal Nogosari. Terminal Nogosari tepat berada di sebelah selatan Pasar Nogosari, berjajar dengan sejumlah pusat aktivitas publik seperti kantor Kecamatan Nogosari, Markas Kepolisian Sektor (Mapolsek) Nogosari, SMPN 1 Nogosari, dan kompleks sekolah lain.

Dalam sepekan seharusnya ada dua hari pasaran yang bisa dimanfaatkan Sutrisno mendulang rupiah dari penumpang, yakni Pon dan Kliwon. “Sekarang sudah tidak bisa mengandalkan pasaran, hanya berharap ada rombongan datang,” ujar Sutrisno saat berbincang dengan Solopos.com di Terminal Nogosari.

Rombongan yang dimaksud adalah para pedagang yang nglaju dari Nogosari ke Kartasura dengan melewati Bandara Adi Sumarmo. Trayek angkot Sutrisno memang melewati jalur tersebut. Satu orang dikenai tarif Rp4.000-Rp7.000 tergantung jarak.

Sementara anak sekolah dikenai tarif maksimal Rp3.000 yang juga diukur berdasarkan jarak. Sejak lima tahun lalu pangsa pasar Sutrisno berubah total. Dia tak lagi mengandalkan bocah-bocah sekolah sebagai sumber utama pendapatan.

“Sekarang anak sekolah lebih pilih naik motor, jadi konsumen angkot tinggal orang-orang pasar dan orang yang tidak bisa mengendarai motor,” ujar dia.

Pola penggunaan sepeda motor di kalangan anak SMP yang semakin marak menurut Sutrisno menjadi faktor utama yang membuat angkot mulai terpinggirkan. Terakhir, sekitar 2012, angkot warna biru muda milik Pusat Koperasi Angkatan Udara (Puskopau) Bandara Adi Sumarmo tersebut melayani tiga rute melewati Nogosari, Sambi, dan Kalioso.

Ketiganya sama-sama mengantarkan penumpang ke bandara dan paling jauh Kartasura. Hanya, dua trayek lain, Sambi dan Kalioso, kini sudah benar-benar gulung tikar. Hanya tersisa Nogosari dengan sepuluh unit armada.

Padahal dulunya di jalur Sambi ada sekitar sepuluh unit armada dan Kalioso 15 unit armada. Sepuluh unit armada tersisa di jalur Nogosari-Kartasura pun kini lebih sering berputar di kawasan Pasar Mangu.

Masa kejayaan angkot terkikis mulai 2012 lalu. Sutrisno masih ingat kala itu angkot penuh bocah-bocah SMP hingga bergelayutan di pintu. Di depan sekolah-sekolah saat jam berangkat maupun pulang tiga angkot bisa penuh.

Namun kini masa-masa itu bagi Sutrisno tak mungkin bisa terulang. Padahal Sutrisno harus mengejar pendapatan lebih dari Rp100.000 per hari untuk mendapatkan keuntungan dari penghasilannya.

Dia menghabiskan 8-10 liter pertalite seharga Rp78.000 sehari ditambah biaya makan dan lain-lain. “Ini untungnya angkot sudah milik sendiri jadi enggak perlu setor ke Puskopau Rp30.000 sebulan,” ujar dia.

Sementara sopir Angkot yang terlanjur gulung tikar sudah beralih pekerjaan menjadi sopir pribadi maupun buruh harian lepas.

Sarwidi, 22, warga Nogosari yang menghabiskan masa SMP pada 2009-2012 mengaku masih menggunakan angkot untuk bepergian. “Misal dari sekolah di SMPN 1 ke Kalioso ya naik angkot,” ujar dia.

Kondisi berbeda dialami Ima Amelia, 15, siswa kelas IXB SMPN 1 Nogosari. Sejak duduk di kelas VIII dirinya sudah diizinkan mengendarai sepeda motor ke sekolah oleh orang tuanya. Padahal rumahnya di Dukuh Putat, Desa Keyongan, Nogosari, hanya berjarak sekitar 2 km dari sekolah.

Sebelumnya, Ima diantar naik motor oleh orang tuanya, namun demi alasan kepraktisan akhirnya orang tua Ima mengizinkannya mengendarai motor sendiri. Kondisi tersebut membuat Ima tidak tertarik dengan angkot dan merasa tidak membutuhkannya.