Dusun Badan & Klotok Angkat Kearifan Lokal, Ribuan Wisatawan Berdatangan

Wisatawan mengantre untuk menukarkan uang dengan ketip di Pasar Mbatok, Dusun Badan, Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, Minggu (24/2/2019). - Wahyu Prakoso
25 Februari 2019 19:39 WIB Wahyu Prakoso Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Puluhan pemuda berkaos hitam tampak sibuk di kampung Kuningan, Dusun Badan, Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, Minggu (24/2/2019) Pukul 08.00 WIB. Puluhan ibu-ibu berpakaian kebaya dan lurik juga sibuk menata dagangannya. Ada yang meracik soto, membakar nasi, merebus air, menghaluskan bumbu kacang, maupun memarut kelapa.

Ibu-ibu dan para pemuda tampak sibuk ketika para wisatawan mengunjungi tempat tersebut sekitar pukul 09.00 WIB. Para wisatawan membentuk barisan sepanjang 10 meter. Mereka menyemut antre menukarkan uang dengan ketip (kepingan kayu). Satu ketip senilai Rp2.000.

Tempat wisata baru di Kuningan tersebut bernama Pasar Mbatok. Ketua Generasi Pesona Indonesia (Genpi) Karanganyar, Sunarso, 28, menjelaskan Pasar Mbatok baru di resmikan, Sabtu (23/2/2019). Namun, sejak dua pekan lalu sudah soft opening. Ribuan pengunjung telah mendatangi tempat itu.

“Terbentuknya Pasar Mbatok ini bermula dari pembedahan cerita Sendang di lokasi ini, namanya Sumber Lanang. Ada cerita tentang Nyai Pudaksari sejak ratusan tahun lalu, ada pohon salam, pohon ringin, dan pohon pakel. Masyarakat percaya, ketika seorang ingin punya jodoh, orang tersebut datang ke sini. Nah kita bikin acara Sura Tansah Dumadi pada Oktober 2018. Acara tersebut merupakan penutupan bulan Sura,” katanya kepada Solopos.com saat ditemui di lokasi.

Menurut Sunarso, dia dan teman-temannya menggali sejarah tempat tersebut. “Nah kami sekarang ingin menggali lagi supaya tempat ini menjadi potensi pariwisata. Kementerian Pariwisata memiliki program membentuk 100 pasar wisata di Indonesia pada 2019. Akhirnya kami buka destinasi wisata digital ini. Nama Mbatok diambil dari nama kedua dusun, yaitu Badan dan Klotok,”katanya kepada Solopos.com.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, tempat itu berada di perbatasan Dusun Badan dan Dusun Klotok. Panitia terdiri dari anggota karang taruna kedua dusun tersebut. Sebanyak 20 pedagang menjajakan makanan tradisional yang berbeda-beda, di antaranya jenang srintil, jamu, bubur tumpang, sego bakar, bajigur, ketan bubuk, gethuk, tiwul dan lain lain.

“Kalau mau beli harus pakai ketip, tukar dulu uangnya ke panitia,”kata pedagang jadah bakar, Yuliati, 43, kepada Solopos.com sambil tersenyum. Ia menjual jadah bakar seharga satu ketip. Selain jadah, ia juga menjual ketan bubuk seharga dua ketip dan wedang bajigur satu ketip.

Yuli mengaku, baru dua hari ini ikut meramaikan pasar. Dia mendapatkan omzet sebanyak Rp500.000 dari pukul 17.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB, Sabtu (23/2/2019). “Transaksi pakai ketip asik mas, kami engga perlu siapkan kembalian,”katanya sambil membakar jadah.

Yuli menjelaskan, aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga tidak mendapatkan penghasilan. Dengan adanya Pasar Mbatok, kini dia memiliki penghasilan tambahan. Dia mengaku, panitia menawarkan kepada ibu-ibu di Dusun Badan dan Dusun Klothok untuk berkontribusi meramaikan tempat wisata tersebut.

Salah satu pengunjung dari Solo, Hariadi Giarso, 61, mengatakan berangkat dari rumah sejak pukul 09.00 WIB bersama istri dan ketiga anaknya. Dia mengaku tahu ada Pasar Mbatok dari Whatsapp Group sejak tiga hari terakhir.

“Saya menghargai pemarkasa pasar ini, karena betul-betul mengangkat potensi daerah. Yang paling menarik kulinernya banyak yang makanan tradisional yang belum pernah saya makan. Suasana alamnya juga enak, sejuk, jadi betah disini. Tapi ini masih baru, ke depan harus dibenahi, tadi saya antre menukar koin lama dan hanya kebagian koin senilai Rp20.000,” katanya kepada Solopos.com

Masuk lebih dalam lagi, tampak aula dengan gaya joglo dipenuhi puluhan wisatawan lokal dan mancanegara yang menonton pertunjukan musik seruling dan gitar. Pada sisi barat pintu berkumpul tujuh orang sedang merajut rumput. Laki-laki berumur 28 tahun dengan gaya rambut ikat kuda, Gaga Rizky memandu untuk membuat wayang dari rumput mendong.

“Siapapun yang berminat boleh ikutan, saya pandu sampai bisa bikit wayang suket. Kami engga pakai ketip, siapa pun yang ingin berdonasi dengan uang boleh memasukkan ke kotak yang saya sediakan, tapi engga wajib kok. Uang tersebut untuk beli suket mendong dari Jogya dan Kediri. Saya belinya langsung ke lokasi,”katanya kepada Solopos.com di sela-sela workshop.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, Pasar Mbatok buka setiap Sabtu dan Minggu pukul 09.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. Berkunjung ke pasar tersebut gratis, pengujung hanya menitipkan kendaraan di halaman rumah warga. Kendaraan tersebut di jaga oleh anggota karang taruna Dusun Badan dan Klothok. Biaya parkir tersebut 100 persen masuk ke kas karang taruna.