Wonogiri Waspada Longsor  

Personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri memeriksa lokasi terjadi tanah bergerak di Dusun Joho, Desa Gedawung, Kismantoro, Wonogiri, Sabtu (23/2/2019)./Istimewa - BPBD Wonogiri
25 Februari 2019 12:00 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri meminta warga yang bermukim di wilayah rawan longsor lebih waspada. Intensitas hujan saat ini sudah tinggi. Air hujan dapat menyebabkan longsor sewaktu-waktu.

Sementara itu, fenomena tanah bergerak di Dusun Joho, Desa Gedawung, Kecamatan Kismantoro, meningkat intensitasnya. Hal itu ditandai dengan putusnya satu kawat seling pancang pada ujung alat sistem peringatan dini (EWS).

Menurut pantauan BPBD, alat EWS menunjukkan pergerakan tanah berada di level 24 sentimeter (cm) dari semula 21 cm pada 21 Februari lalu. Tak hanya itu, di lokasi dekat EWS terpasang juga terjadi penurunan tanah mencapai lebih dari dua meter. “Putusnya kawat seling itu mengindikasikan adanya peningkatan pergerakan tanah. Akibatnya, kini tersisa dua kawat seling yang masih berfungsi,” kata Kepala Pelaksana Harian BPBD Wonogiri, Bambang Haryanto, kepada Espos, Sabtu (23/2).

Sebagai antisipasi, warga di sekitar lokasi dievakuasi ke posko pengungsian yang disediakan yakni dua rumah warga dan satu tenda milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dapur umum juga didirikan. Posko itu dihuni oleh 23 keluarga. “Mengingat kondisi di wilayah masih terjadi hujan, warga tetap diperintahkan untuk mengungsi. Warga juga dilarang melakukan aktivitas di lokasi yang berpotensi rawan tanah bergerak,” ujar Bambang.

Selain di Dusun Joho, wilayah lain yang rawan longsor yakni Dusun Biting, Desa Tegalrejo dan Dusun Galih, Desa Sumber, keduanya di Kecamatan Purwantoro. Kondisi lereng bukit di dusun itu tidak stabil dan secara periodik menunjukkan pergerakan.

Di Biting dan Galih hingga Minggu (24/2), belum terjadi pergerakan tanah lagi. Kali terakhir lereng di lokasi itu bergerak pada penghujan tahun lalu. Lebar rekahan tanah terparah di Biting mencapai 1 meter dan panjang hingga 400 meter. Bahkan, Bambang menyebut lokasi itu kondisinya seperti tanah bergerak di Ponorogo, Jawa Timur, yang akhirnya longsor dan menewaskan sejumlah orang, pada 2018. Kondisi yang sama juga terjadi di Dusun Galih. Tahun lalu lereng di Galih bergerak hingga sedalam 2,5 meter. Kondisi tersebut membuat 371 warga mengungsi. Kendati demikian, Bambang mengimbau warga ekstra waspada. Jika ada pergerakan tanah dia meminta mereka langsung mengungsi secara mandiri.

Camat Kismantoro, Joko Purwidyatmo dan Camat Purwantoro, Joko Susilo, hingga berita ini ditulis belum dapat dimintai informasi terkini tentang kondisi tanah bergerak di wilayah mereka.