Berkesan Mistis, Patung di Selogiri Wonogiri Akhirnya Diganti

Patung Kanjeng Ratu Kencana Sari di dekat Terminal Giri Adipura, Krisak, Singodutan, Selogiri, Wonogiri. (Solopos - Rudi Hartono)
25 Februari 2019 09:00 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri berencana mengganti dua patung yang cukup ikonik di Selogiri, yakni Patung Macan di persimpangan Nambangan dan Kanjeng Ratu Kencana Sari di dekat Terminal Giri Adipura, Krisak, Singodutan.

Kedua patung itu akan diganti dengan penanda yang lebih menonjolkan unsur kedaerahan. Kedua patung tersebut dinilai tak merepresentasikan Kota Sukses, tetapi justru kental dengan nuansa mistis.

Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, saat ditemui Solopos.com di pendapa rumah dinasnya kompleks Sekretariat Daerah (Setda), pekan lalu, menjelaskan terlepas dari fungsi estetika, penanda yang dibangun, seperti patung atau monumen, harus dapat mengedukasi masyarakat.

Oleh karena itu pembangunannya perlu memikirkan filosofi yang ingin disampaikan kepada khalayak. Menurut dia, Patung Macan di Nambangan dan Kanjeng Ratu Kencana di Krisak tidak mencerminkan nilai atau semangat kewonogirian.

Sebaliknya, patung tersebut justru memberi kesan Wonogiri penuh budaya mistis. Berbeda halnya jika penanda yang dibangun adalah patung Soekarno atau tokoh lainnya, seperti Raden Mas (R.M.) Said atau Pangeran Samber Nyawa.

Soekarno memberi pesan tentang nasionalisme dan perjuangan, sedangkan R.M. Said merupakan tokoh di balik berdirinya pemerintahan Wonogiri. “Misalnya patung macan, itu nilai filosofisnya apa, nilai budayanya apa, kan enggak ada sama sekali. Dulu kenapa dibangun patung seperti itu jika pesan yang ingin disampaikan tak relevan dengan nilai-nilai Wonogiri. Kecuali kalau Wonogiri punya penangkaran macan misalnya, boleh lah dibangun patung macan sebagai ikon daerah,” ucap Bupati.

Dia melanjutkan penataan kawasan tersebut saat ini belum menjadi prioritas. Namun, Pemkab sudah memikirkan program untuk menghadirkan penanda yang merepresentasikan atau bercorak Wonogiri, seperti patung tokoh pahlawan, pendiri Wonogiri, Piala Adipura, atau semacamnya.

Penanda tersebut akan dijadikan ikon daerah. Terlebih, Nambangan dan Krisak merupakan kawasan perbatasan yang menjadi gerbang masuk Wonogiri dari Kabupaten Sukoharjo. Sudah selayaknya kawasan perbatasan ditata agar memberi kesan positif bagi orang yang masuk ke Wonogiri.

Pada tahapan awal Pemkab sudah menata kawasan itu dengan membongkar empat patung naga di gapura perbatasan dan memberinya bando selamat datang dan selamat tinggal, tahun lalu.

“[Penataan] nanti akan mempertimbangkan aspek kemanfaatannya dan tentu melihat kemampuan APBD. Prinsip dasarnya, pembangunan ruang publik harus mengedepankan fungsi,” imbuh Bupati.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, gapura, Patung Macan, dan Patung Kanjeng Ratu Kencana Sari dibangun pada masa Bupati Begug Purnomosidi 2005-2010. Pembangunan gapura menggunakan APBD, sedangkan lainnya dibangun menggunakan bantuan swasta.

Warga tak mengetahui makna bangun-bangunan besar itu. Mereka memaknainya hanya sebagai penanda wilayah.

Warga Nangger, Nambangan, Aris, tak mempermasalahkan jika Pemkab ingin mengganti patung macan atau patung lainnya. Namun, menurut dia, Pemkab perlu mempertimbangkan dimensi gaibnya jika ingin membongkar patung tersebut.

Menurut warga, kata dia, di patung itu ada “penunggu” yang merupakan penguasa wilayah setempat. Jika diusik dikhawatirkan “penunggu” malah mengganggu warga.

“Kalau soal itu percaya enggak percaya ya. Tapi sebagai orang Jawa masih banyak orang yang meyakini hal itu. Lebih baik patungnya dipercantik atau kalau mau bangun saja monumen baru di lokasi lain,” kata dia.