Luhut Akui Punya Lahan, tetapi Tak Sampai Ratusan Ribu Hektare

Joko Widodo dan Prabowo Subianto bersalaman disaksikan Ketua KPU Arief Budiman (tengah) saat debat capres 2019 putaran kedua di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2 - 2019). (Antara/Akbar Nugroho Gumay)
26 Februari 2019 06:50 WIB Kurniawan Solo Share :

Solopos.com, SOLO-Luhut Binsar Panjaitan membantah tudingan yang menyebutkan dirinya juga memiliki dan menguasai lahan yang luasnya ratusan ribu hektare, seperti yang dimiliki Prabowo Subianto di Kalimantan dan Aceh.

Bantahan tersebut disampaikan Luhut saat diwawancarai wartawan seusai pelantikan pengurus Sukarelawan Bravo 5 Soloraya di Batari Solo, Senin (25/2/2019).

“Oh kalau ada [punya lahan ratusan ribu hektare] diambil saja,” ujar dia.

Luhut mengaku memiliki lahan tambang di luar Jawa. Tapi luasnya tidak sampai ratusan ribu hektare seperti yang ditudingkan beberapa pihak. “Saya punya lahan tambang iya betul. Tapi ya tidak ratusan ribu heltare lah,” kata dia.

Penguasaan lahan dibicarakan seusai debat capres II. Awalnya Jokowi menyebut Prabowo memiliki lahan 340.000 hektare. Kemudian kubu Prabowo dan LSM menyebut Luhut juga memiliki lahan tambang.

Luhut di Solo untuk melantik pengurus Sukarelawan Bravo 5 Soloraya yang mendukung pasangan nomor urut 01. Dalam pidatonya, Luhut meminta sukarelawan Bravo 5 terus mengampanyekan pasangan 01.

Bahkan dia berharap pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin bisa meraih 90 persen suara di Kota Solo. “Kita sekarang dalam posisi bukan hanya ingin memenangkan presiden tapi juga mempertahankan ideologi Pancasila,” sambung dia.

Luhut menceritakan pengalamannya 4,5 tahun menemani Jokowi di pemerintahan. Menurut dia, sebaik apa pun kinerja, pemerintah selalu menjadi sasaran fitnah orang tak bertanggung jawab.

Padahal Jokowi di mata Luhut adalah sosok yang tanggap, tanggon, dan trengginas. Tiga aspek tersebut merupakan syarat mendasar seorang pemimpin. “Saya 22 tahun di Kopassus. Pengalaman saya, tiga hal ini relevan,” imbuh dia.

Luhut membantah pendapat pihak yang menyatakan pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintahan Jokowi tidak penting. Merujuk pakar ekonomi mana pun, infrastruktur sangat penting dalam pembangunan ekonomi.

“Jadi orang yang bilang tidak makan infrastruktur ya memang kamu ndablek gitu aja. Ke mana pun saya pergi bicara di Eropa, Amerika, Inggris, Singapura, semua memuji langkah Presiden Jokowi. Kita patut bangga tentu saja,” terang dia.

Luhut mencontohkan apresiasi yang datang dari wakil negara-negara yang hadir dalam World Economic Forum baru-baru ini. Kendati sempat mempertanyakan beberapa hal tentang Indonesia, mereka mengapresiasi capaian Indonesia.

“Ujungnya Indonesia dibilang negara paling stabil di antara negara-negara berkembang saat ini. Mereka berkata, ‘Anda beruntung punya Presiden seperti Jokowi yang bisa membawa Indonesia berlayar dengan baik’,” sambung dia.