Mengharukan, Ini Kisah Sukses Perempuan Difabel Inspiratif dari Solo

Pembatik Ayu Tri Handayani menunjukkan caranya membatik dengan kaki di Kantor KPw Bank Indonesia Solo, Senin (25/2/2019) - Istimewa
26 Februari 2019 08:40 WIB Farida Trisnaningtyas Solo Share :

Solopos.com, SOLO - Bank Indonesia (BI) Solo mengajak generasi muda yang tergabung dalam Generasi Baru Indonesia (GenBI) belajar kepada perempuan inspiratif yang sukses mengejar mimpi meski dalam keterbatasan. GenBI adalah komunitas mahasiswa penerima beasiswa BI di lingkup Kantor Perwakilan (KPw) BI Solo.

Acara rutin bertajuk GenBI Ngopi #3 yang digelar Senin (25/2/2019) ini mengusung tema Membangun Karakter Generasi Muda Melalui Kisah Ïnspiratif Wanita Hebat yang Berkarya & Berprestasi di Tengah Keterbatasan. Kepala KPw BI Solo, Bandoe Widiarto, mengatakan BI menghadirkan dua tokoh perempuan yang menginspirasi generasi muda.

“Dengan sharing pengalaman hidup perempuan hebat tersebut diharapkan mampu menginspirasi dan memotivasi GenBI untuk dapat menjadi frontliner bagi BI, agent of change di masyarakat, dan future leader yang cerdas dan berkarakter bagi Indonesia, sebagaimana visi GenBI,” papar Bandoe kepada wartawan di sela-sela acara.

Di tengah keterbatasan ekonomi dan fisik, dua wanita Y. Anni Aryani dan Ayu Tri Handayani sukses meraih mimpi. Bandoe memaparkan Dra Y. Anni Aryani, M.Prof.Acc., Ph.D.,Ak memiliki keterbatasan fisik akibat menderita penyakit polio sejak umur 2,5 tahun sehingga lumpuh, namun semangat belajar Anni tak pernah padam.

Anni berhasil menyelesaikan gelar sarjana di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo (1991), menyelesaikan gelar M.Prof. Professional Accounting (M.Prof.Acc) dari The University of Queensland Australia (1999), dan merampungkan S3 dengan gelar Ph.D. Accounting and Finance di Victoria University, Melbourne (2009).

Anni kini mendedikasikan hidupnya sebagai dosen di almamaternya UNS. Dia sempat berhenti sekolah saat SD. Meskipun memiliki keterbatasan fisik, Anni membuktikan diri sukses menggondol gelar PhD. “Diskriminasi itu masih ada. Stigma yang berkembang di masyarakat, kami ini dianggap sebagai permasalahan sosial. Padahal soal kemampuan, kami bisa,” kata Anni.

Sosok kedua adalah Ayu Tri Handayani. Ia merupakan pembatik muda penyandang disabilitas yang berhasil membuat batik tulis bernilai belasan juta rupiah. Ayu mengatakan keahliannya membatik tak pernah disangka. Ayu yang merupakan penyandang disabilitas membuat takjub banyak pihak lantaran kemampuannya membatik dengan kaki.

“Satu kain batik bisa saya kerjakan tiga sampai empat bulan. Mungkin karena saya membatiknya dengan kaki jadi istimewanya di situ. Semakin sulit motifnya, kian mahal harganya,” ujar dia.

Acara ini juga dihadiri ibu Presiden Joko Widodo, Sujiatmi Notomiharjo. “Semoga [generasi muda] semangat belajar, lebih hebat lagi. Syukur ada yang bisa jadi presiden. Siapa tahu. Manusia yang berusaha, Allah yang menentukan,” ujar Sujiatmi.