Kisah Alun, Pemuda Sukoharjo Eks Pegawai Bank Yang Sukses Rintis Usaha Konfeksi

Alun Sukowati Prihantoro, 31, memantau produksi sablon di tempat usahanya Jl. Rajawali No. 7 Mojotegalan, Kelurahan Joho, Sukoharjo, Minggu (24/2/2019). (Solopos - Indah Septiyaning W.)
26 Februari 2019 15:15 WIB Indah Septiyaning Wardhani Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Usianya masih tergolong muda, baru 31 tahun. Namun, pemuda bernama lengkap Alun Sukowati Prihantoro, warga Joho, Kecamatan/Kabupaten Sukoharjo, ini mampu membuktikan diri menjadi pebisnis sukses di Kabupaten Makmur.

Bukan perkara gampang bagi Alun untuk meninggalkan pekerjaan yang sudah nyaman dengan penghasilan yang mapan untuk kemudian menggeluti dunia baru dari nol. Dibutuhkan kekuatan dan keberanian untuk melakukannya karena keputusan tersebut akan membawa konsekuensi yang tidak kecil.

Namun, Alun berani meninggalkan zona nyamannya sebagai pegawai salah satu bank milik negara dan beralih menggeluti dunia konfeksi. Alun memulai bisnis konfeksinya pada 2015 lalu.

Saat itu, Alun baru saja berhenti dari pekerjaannya di salah satu bank. Berbekal sedikit pengalaman ketika membantu usaha teman, Alun membuka usaha baru yang diberi nama Mustika Abadi.

Bapak satu anak ini melihat usaha konfeksi adalah bisnis yang sangat menguntungkan. Pada awalnya, dia menerima order pembuatan 50 kaus dari salah satu instansi di Sukoharjo.

Namun lantaran belum tahu dan belum pernah melakukannya, pesanan itu kemudian dia lempar kepada temannya yang memiliki usaha sablon. Saat itulah dirinya mulai belajar tentang usaha tersebut hingga kemudian memutuskan untuk resign dari pekerjaannya di bank.

"Awalnya hanya punya modal sekitar Rp5 juta dengan tiga karyawan," ujar Alun ketika berbincang dengan Solopos.com di tempat usahanya Jl. Rajawali No 7 Mojotegalan, Kelurahan Joho, Sukoharjo, Minggu (24/2/2019).

Saat itu, Alun membeli satu set mesin jahit kaus dengan tiga karyawan. Dari usaha menjahit kaus itulah usahanya terus berkembang dari mulut ke mulut. Alun menerima pesanan untuk kaus oblong, sweater, jaket, polo shirt, hoodie, seragam, almamater, serta sablon dan bordir.

"Saat ini saya sudah memiliki 11 karyawan. Rata-rata tiap bulan mendapatkan pesanan 2.000-3.000 potong kaos dengan omset mencapai Rp30 juta," katanya.

Bisnisnya semakin moncer menjelang pemilihan umum (pemilu) yang akan dilaksanakan April nanti. Alun kebanjiran pesanan kaus untuk kampanye. Meski begitu, Alun mengaku hanya menerima order kaus premium.

Alun tidak melayani sablon maupun pembuatan kaus murah yang sering disebut kaus saringan tahu. Untuk order kaus kampanye, Alun juga tidak sembarangan menerima, hanya orang-orang yang dia kenal yang dia layani. "Saat ini, antara produksi kaus umum dan kaus politik persentasenya 50:50," tuturnya.

Yang paling membanggakan ketika Alun menerima order untuk memroduksi kaus merchandise acara televisi 86 yang tayang di Net TV. Alun mendapat order pembuatan kaus jenis polo sebanyak 4.000 potong.

Nilai order tersebut juga cukup besar mencapai sekitar Rp200 juta. Saat ini order yang dia terima sebagian besar datang dari komunitas-komunitas, baik itu komunitas berbasis kampung maupun komunitas motor. "Yang terbaru kami memproduksi untuk komunitas vespa dengan brand Scoot Day," ujarnya.

Disinggung soal promosi, Alun mengaku lebih menyukai promosi manual ketimbang via media sosial. Sebab usahanya bisa menjadi besar juga dari promosi manual dari mulut ke mulut. "Saya lebih menyukai bertemu langsung dengan klien daripada melalui dunia maya," katanya.

Meski begitu, Alun tidak memungkiri promosi melalui media online khususnya medsos bisa membuat usahanya semakin meningkat.