Kuburan Kuno Terdeteksi di 5 Desa Sragen

Tim arkeolog dibantu warga melakukan ekskavasi dan menemukan dua buah kubur kuno di Dusun Toho, Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe, Sragen, Selasa (26/2/2019). (Solopos - Moh. Khodiq Duhri)
26 Februari 2019 19:15 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Tim arkeolog dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran mendeteksi adanya kuburan kuno yang kental dengan tradisi zaman megalitikum di lima desa di dua kecamatan wilayah Sragen.

Hal itu terungkap setelah tim arkeolog menggelar survei dengan mewawancarai warga sekitar di kawasan Situs Sangiran pada Jumat (22/2/2019). Survei tersebut merupakan bagian dari kegiatan Kajian Potensi Cagar Budaya Situs Sangiran Tahap II.

Lima desa yang ditengarai banyak menyimpan kuburan kuno tersebut adalah Desa Bukuran, Desa Tegalombo, Desa Krikilan, dan Desa Ngebung di Kecamatan Kalijambe, dan Desa Manyarejo di Kecamatan Plupuh.

“Kajian Potensi Cagar Budaya Tahap II ini melibatkan 21 personel yang di dalamnya ada sembilan arkeolog. Kami terbagi dalam tiga tim yakni tim survei masyarakat, tim survei arkeolog, dan tim ekskavasi. Tim survei masyarakat sudah mendeteksi kubur kuno itu di lima desa di dua kecamatan,” ujar Ketua Tim Peneliti, Haris Rahma Nendra, saat ditemui Solopos.com di lokasi ekskavasi di Dusun Toho, Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe, Sragen, Selasa (26/2/2019).

Berdasar keterangan yang dihimpun tim, warga di lima desa tersebut kerap menemukan kubur kuno yang mereka sebut dengan istilah Kubur Buddha. Di dalam kubur kuno itu, warga kerap menemukan sejumlah artefak seperti senjata dari bahan perunggu, serpihan emas, manik-manik, gerabah atau periuk dan lain-lain yang menjadi bagian dari tradisi peninggalan zaman megalitikum.

Sejauh ini, benda cagar budaya yang tersimpan dalam kubur kuno itu belum diteliti melalui laboratorium. Namun, benda cagar budaya tersebut diperkirakan dibuat pada awal Masehi di mana manusia sudah mulai mengenal peralatan modern.

“Dari lima desa itu, kami hanya melakukan ekskavasi di dua lokasi Desa Bukuran. Selain di Dusun Toho, ekskavasi juga dilakukan di Dusun Dung Banteng,” ucap Haris.

Kamti, 57, warga Dusun Toho, mengaku pernah menemukan serpihan emas ketika membantu suaminya menggali septic tank tak jauh dari rumahnya beberapa tahun lalu. Sampai saat ini serpihan emas seukuran kuku jari kelingking itu masih ia simpan.

Ia sendiri mengaku belum mengetahui serpihan emas tersebut bagian dari perhiasan apa. “Untuk membedakan mana emas dan mana tembaga itu mudah. Kalau digosok-gosok di atas kertas putih, emas itu tidak akan meninggalkan noda hitam di atas kertas. Kalau bukan emas sudah pasti ada noda hitam," ujar Kamti saat ditemui di lokasi.