Patah Sejak 2016, Jembatan Bejingan Sragen Mulai Dibongkar dan Diperbaiki

Satu unit ekskavator disiapkan untuk membongkar Jembatan Bejingan di Masaran, Sragen, Selasa (26/2/2019). (Solopos - Moh. Khodiq Duhri)
26 Februari 2019 21:15 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Jembatan Bejingan di Desa Pilang, Kecamatan Masaran, Sragen, yang patah sejak 2016 lalu mulai dibongkar oleh rekanan proyek PT Bangun Gumelar. Jembatan itu akan dibangun kembali dengan anggaran Rp5,6 miliar.

Pantauan Solopos.com di lokasi, Selasa (26/2/2019), satu unit ekskavator dkerahkan untuk membongkar bangunan jembatan yang sudah patah sejak 2016 silam tersebut. Pembongkaran jembatan Kali Grompol tersebut diawali perusakan lapisan aspal di badan jembatan. Kegiatan pembongkaran jembatan ini dimulai sejak Senin (25/2/2019).

“Setelah dibongkar, dilanjutkan pembangunan fondasi dengan tiang pancang. Tidak ada penggalian karena air di sungai itu tidak pernah kering. Tiang pancang itu sudah sangat kuat untuk memperkuat fondasi. Jadi, pembangunan fondasi tidak perlu menunggu dasar sungai kering,” ujar Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sragen, Marija, kepada Solopos.com.

Jembatan Bejingan dibangun sepanjang 30 meter dan lebar 7 meter. Jembatan ini dirancang tidak memiliki tiang di bagian tengah sehingga bila ada sampah pepohonan yang hanyut ke sungai tidak tersangkut di tiang jembatan.

Selama ini, banyaknya sampah berupa rumpun bambu yang tersangkut di tiang jembatan dinilai sebagai penyebab kerusakan Jembatan Bejingan. “Rencananya pada Kamis [28/2/2019], Bupati akan meninjau proses pembongkaran jembatan,” ucap Marija.

Pembangunan Jembatan Bejingan berlangsung selama delapan bulan ke depan. Proyek ini dijadwalkan kelar pada Oktober mendatang. Dengan begitu, Jembatan Bejingan belum bisa digunakan saat arus mudik Lebaran 2019.

Sebelum badan jembatan patah pada 2016, jembatan ini sudah mengalami kerusakan sejak 2014 lalu. Namun, saat itu Pemkab Sragen hanya melakukan perbaikan secara parsial. Banjir yang melanda Kali Grompol pada 2016 membuat pilar jembatan bagian tengah keropos.

Hal itu membuat badan jembatan patah menjadi dua bagian meski masih menempel pada pilar tengah. Jembatan ini sempat ditutup warga karena khawatir bakal memakan korban. Arus lalu lintas sempat dialihkan melewati jalan kampung setelah warga memasang barikade.

Namun, pengguna jalan kebanyakan nekat membongkar barikade. Warga sekitar juga sempat menimbun tanah di ujung jembatan, namun pengguna sepeda motor masih bisa menerobos di antara sela-sela timbunan tanah itu.

“Sekarang kami tidak sabar untuk menantikan jembatan baru. Selama ini kami nekat melintasi jembatan itu meski kami tahu itu berbahaya,” papar Ahmad Sukron, 17, salah seorang pengguna jalan.