Meski Terpencil, Warga Girpasang Klaten Tak Pernah Golput Saat Pemilu

Komisioner KPU Klaten, Samsul Huda, menjelaskan tentang surat suara dan tata cara mencoblos saat Pemilu 2019 kepada warga Dukuh Girpasang, Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Sabtu (23/2/2019). (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
26 Februari 2019 13:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Tinggal di daerah dengan akses minim tak lantas membuat warga Dukuh Girpasang, Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Klaten, enggan memberikan hak suara mereka saat pesta demokrasi.

Justru, angka partisipasi warga dukuh di lereng Gunung Merapi itu selalu tinggi tiap ada pemilihan pemimpin di berbagai tingkatan. Girpasang selama ini dikenal sebagai kampung terisolasi.

Dukuh tersebut terpisahkan jurang dengan perkampungan lainnya. Akses warga menuju dukuh lain hanya bisa melalui jalan setapak menyusuri tebing jurang sedalam 130 meter.

Salah satu warga, Slamet Mulyono, 45, mengatakan warga tak pernah golput saat pesta demokrasi digelar mulai dari pilkades hingga pemilu. Ia menjelaskan selama ini tempat pemungutan suara (TPS) berada di kampung lain yang hanya bisa diakses melalui jalan setapak di tepi tebing.

Saat hari pemilihan tiba, warga biasa berkumpul dan berangkat bersama-sama menuju TPS. “Kalau Pak RT sudah memukul kentongan, artinya penanda memberikan hak suara. Kami kemudian berangkat bersama-sama menuju TPS. Yang muda membantu yang lebih tua untuk berjalan,” jelas Slamet saat ditemui di Girpasang, Sabtu (23/2/2019).

Pada Pemilu 2019 mendatang, warga Girpasang bakal memberikan hak suara mereka di TPS wilayah Dukuh Gedong Ijo. Hanya, Slamet dan warga lainnya belum mengetahui persis TPS bagi warga Girpasang untuk memberikan suara mereka.

Slamet menjelaskan jumlah warga Girpasang sebanyak 35 jiwa. Dari jumlah itu ada 26 warga yang memiliki hak pilih dan terdaftar dalam daftar pemilih tetap (DPT) Pemilu 2019. Usia warga yang memiliki hak pilih berkisar 21 tahun hingga 65 tahun.

Warga lainnya, Partini, 30, mengaku selama ini tak pernah absen memberikan hak pilih. Soal calon yang akan dipilih pada Pemilu 2019, ia hanya mengetahui dari siaran televisi terutama untuk pasangan calon presiden dan calon wakil presiden.

Sementara calon anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi Jawa Tengah, serta DPRD Kabupaten Klaten, Partini mengaku selama ini belum mengenal. Ia menjelaskan belum ada calon anggota legislatif (caleg) yang selama ini kampanye atau sosialisasi ke Girpasang.

“Pemilu kali ini sepertinya agak membingungkan karena ada lima surat suara. Kalau saat mencoblos nanti masih tidak ada yang tahu, ya tanya ke panitia untuk dibimbing caranya,” kata dia.

Sementara itu, KPU Klaten menggelar sosialisasi di Girpasang, Sabtu. Sosialisasi di antaranya tentang jadwal pelaksanaan pemilu pada 17 April 2019 serta tata cara mencoblos. Sosialisasi diperlukan lantaran Pilpres dan pemilu legislatif digelar pada hari yang sama.

Komisioner Divisi Teknis Penyelenggaraan Pemilu KPU Klaten, Samsul Huda, mengatakan sosialisasi itu menyasar komunitas warga di daerah terpencil. Samsul menjelaskan akses Girpasang berupa jalan setapak menyusuri tebing untuk menuju ke dukuh lainnya.

Namun, selama ini tak ada TPS khusus di dukuh tersebut. Warga harus menuju ke dukuh lain ketika memberikan hak suara. “TPS untuk warga Girpasang memang cukup jauh tetapi masih bisa dijangkau warga. Memang tidak ada TPS khusus karena satu TPS itu pemilihnya 300-an orang,” tutur dia.

Komisioner Divisi Hukum dan Pengawasan KPU Klaten, Indrawati Yuliani, mengatakan dari keterangan yang ia peroleh selama ini angka partisipasi pemilih warga Girpasang tinggi. “Harapan kami angka partisipasi warga Girpasang bisa menginspirasi warga di wilayah lain yang akses menuju ke TPS lebih mudah,” ungkapnya.