Nasib RSIS: Pernah Jadi RS Swasta Terbaik, Tutup karena Konflik Internal

Karyawan berkumpul di area Rumah Sakit Islam Surakarta (RSIS) untuk melihat kondisi RS di Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Selasa (26/2). - Solopos.com/M. Ferri Setiawan
27 Februari 2019 10:40 WIB Danang Nur Ihsan, Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO — Sejumlah karyawan Rumah Sakit Islam Surakarta (RSIS) membuka segel yang menutup pagar RS di Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Selasa (26/2/2019).

Mereka masuk RSIS untuk mengecek berbagai peralatan medis setelah RS itu berhenti beroperasi pada Juli 2018 lalu karena konflik internal yang tak kunjung rampung sejak 2014.

Setelah tujuh bulan tidak beroperasi, kondisi RSIS sangat memprihatinkan. Lantai keramik di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSIS penuh debu dan sampah daun kering. Papan pengumuman di samping pintu masuk IGD terlihat usang. Tak jauh dari pintu masuk terdapat sepasang kursi tunggu besi yang ada kotoran binatang.

Bercak-bercak hitam kotoran kelelawar menempel di sepanjang lantai lorong. Bahkan, kotoran kelelawar juga menempel di lantai tangga menuju ruang direksi rumah sakit.

Kondisi RS itu menjadi ironi karena RSIS pernah berjaya dengan menjadi rumah sakit swasta terbaik. Berdasarkan data yang dihimpun Solopos.com dari berbagai sumber, rumah sakit ini diresmikan Gubernur Jawa Tengah H.M. Isma’il pada 30 Juni 1983.

RSIS kemudian berkembang pesat setelah 10 tahun beroperasi.  Pada 1993, Departemen Kesehatan (Depkes) menilai kualitas pelayanan rumah sakit swasta di seluruh Indonesia. RSIS kemudian menyabet juara I penampilan kinerja rumah sakit swasta.

Rumah sakit ini terus bersolek dan melengkapi diri dengan berbagai fasilitas baru dan bangunan baru. Pada 21 Maret 1997 diresmikan graha rawat jalan RSIS berlantai dua yang merupakan bagian pelaksanaan pembangunan gedung utama.

Pada 25 Maret 2000, Masjid Baiturrahman di kompleks RSIS diresmikan. Pembangunan masjid ini menelan anggaran Rp1,3 miliar. Setahun berselang, gedung sayap barat diresmikan. RS itu tumbuh pesat hingga 2013-2014.

Berdasarkan Profil Kesehatan Kabupaten Sukoharjo 2014 yang dikutip Solopos.com dari laman depkes.go.id, RSIS memiliki 208 tempat tidur pasien. Solopos.com menggunakan data 2014 karena data RSIS tidak lagi muncul dalam Profil Kesehatan Kabupaten Sukoharjo 2015 dan tahun-tahun berikutnya.

Pada 2014, RSIS rata-rata melayani 422 pasien rawat jalan per hari. Kunjungan pasien rawat jalan di RSIS kala itu merupakan yang tertinggi di Sukoharjo di bawah RS Ortopedi Prof. Soeharso. Kala itu, RSIS juga menjadi RS di Sukoharjo yang paling banyak merawat pasien yaitu 16.078 pasien pada 2014.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat pada 2014 di RSIS terdapat 69 dokter spesialis, tiga dokter gigi, dan 27 dokter umum. RS ini juga menampung 21 bidan dan 252 perawat. Selain itu ada juga puluhan tenaga teknis medis lainnya dan 218 tenaga penunjang kesehatan yang bekerja di RSIS.

Badai konflik internal menerpa pada 2014. Konflik berkepanjangan antara Yayasan Rumah Sakit Islam Surakarta (Yarsis) dengan Yayasan Wakaf Rumah Sakit Islam Surakarta (YWRSIS) berlarut-larut hingga akhirnya RS itu sepi dan tidak beroperasi pada Juli 2018.

Wakil Sekretaris Serikat Pekerja RSIS, Suyamto, mengatakan para karyawan sengata masuk RS untuk mengecek berbagai alat medis. Diketahui berbagai alat medis hilang. ”Total aset RSIS meliputi bangunan, peralatan kantor dan medis kurang lebih Rp760 miliar. Kami masih menginventarisasi peralatan kantor dan medis yang hilang,” ujar Suyamto.