7 Bulan RSIS Pabelan Sukoharjo Tutup, Komputer & Peralatan Medis Raib

Karyawan meninjau peralatan medis Rumah Sakit Islam Surakarta (RSIS) Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Selasa (26/2 - 2019). (Solopos/M. Ferri Setiawan)
27 Februari 2019 08:30 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Berhentinya operasi Rumah Sakit Islam Surakarta (RSIS) di Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, sejak Juli 2018 tak hanya membuat kompleks bangunan tak terurus. Berbagai peralatan medis di RS yang pernah menjadi primadona di kawasan sebelah barat Kota Solo itu raib.

Hal itu terungkap saat para karyawan RSIS kembali memasuki kompleks bangunan RS termasuk Instalasi Gawat Darurat (IGD), Selasa (26/2/2019). Para karyawan menyebar di setiap ruangan di gedung rumah sakit. Mereka mengecek berbagai peralatan kantor dan medis di masing-masing ruangan.

Hasil pengecekan, sebagian peralatan medis di ruang laboratorium diketahui telah hilang. Selain itu, dua unit CPU komputer dan monitor di ruang IGD juga raib. Fakta ini ditambah dengan hilangnya hardisk komputer di beberapa ruang administrasi kantor.

“Ada satu ruang yang kondisinya acak-acakan. Hardisk komputer itu berisi data pasien dan hasil pemeriksaan pasien. Jika server di ruang teknologi informasi masih ada tak masalah. Namun, kami belum mengecek ruang server itu,” ujar dia.

Sebelum terjadi konflik, RSIS menjadi rumah sakit primadona masyarakat di kawasan satelit Kota Solo. Masyarakat memilih berobat ke RSIS lantaran cukup dekat dengan rumah. Selain itu, RSIS memiliki sejumlah peralatan berteknologi canggih yang tak ada di rumah sakit lainnya.

“Total aset RSIS meliputi bangunan, peralatan kantor dan medis kurang lebih Rp760 miliar. Kami masih menginventarisasi peralatan kantor dan medis yang hilang,” ujar dia.

Para karyawan berharap RSIS bisa kembali beroperasi melayani masyarakat yang berobat. Mereka juga ingin kembali mendapatkan penghasilan tetap setiap bulan setelah nasib mereka terkatung-katung selama berbulan-bulan. Jumlah karyawan yang dirumahkan lebih dari 400 orang. Mereka terpaksa beralih pekerjaan demi mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya.

“Semoga Allah SWT mengabulkan doa para karyawan. Semoga ada secercah harapan kejelasan nasib para karyawan yang berjuang demi keluarganya,” timpal Suryatmojo, karyawan RSIS lainnya.

Sementara itu, Ketua Pengawas Yayasan Rumah Sakit Islam Surakarta (Yarsis), M. As'ad, menyatakan bakal melaporkan kasus pencurian aset rumah sakit ke pihak berwajib. Pencurian peralatan kantor maupun medis merupakan tindak pidana yang harus diusut aparat penegak hukum.

As’ad menyebut segera mengurus berbagai perizinan agar rumah sakit bisa kembali beroperasi pada 2019. “Ada dump truk dan sepeda motor yang dijual pihak Yayasan Wakaf Rumah Sakit Islam Surakarta [YWRSIS]. Dua pekan lalu sudah diputuskan majelis hakim. Itu menjual barang yang bukan haknya,” kata dia.