Setelah Minta Es Teh, Pemuda Di Gemolong Sragen Tabrakkan Diri Ke Kereta

Ilustrasi kecelakaan kereta api.(phoenixsum.co.za)
27 Februari 2019 19:35 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Hariyanto, 22, warga Kedung Tombro, Kecamatan Wonosegoro, Boyolali, nekat mengakhiri hidupnya dengan cara menabrakkan diri ke kereta api (KA) di kawasan Gemolong, Sragen, Rabu (27/2/2019) siang.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, Hariyanto tiba di lokasi dengan mengendarai sepeda motor Yamaha Mio berpelat nomor AD 3634 JD sekitar pukul 14.00 WIB. Menurut kesaksian warga, setelah memarkir sepeda motornya tak jauh dari rel, dia sempat mondar-mandir di lokasi selama beberapa saat.

Merasa haus, dia lalu meminta minuman teh botol kepada pelajar SMK yang kebetulan lewat di lokasi. Tak lama kemudian ada KA PLB KP/2721e pengangkut semen jurusan Stasiun Purwosari Solo-Stasiun Arjawinangun lewat.

Tiba-tiba, Hariyanto berlari mendekati rel. Dia lalu menabrakkan badannya dengan bagian depan KA. Tubuhnya langsung pun tertabrak KA hingga terpotong menjadi beberapa bagian.

“Kalau menurut kesaksian warga, memang ada indikasi bunuh diri dalam kecelakaan ini. Lokasi itu sebetulnya bukan perlintasan KA resmi. Lebih tepatnya itu jalan tikus menuju Sub Terminal Gemolong,” terang sukarelawan dari RAPI Sragen, Suratman, yang ikut membantu proses evakuasi korban di lokasi kepada Solopos.com, Rabu petang.

Selain meninggalkan sepeda motor, Hariyanto juga meninggalkan tas yang di dalamnya terdapat kitab suci Alquran. Di dalam tas itu juga terdapat secarik kertas yang berisi tiga nama orang yakni Sri Supeni, Aulina Alfian, dan Rebo lengkap dengan nomor telepon.

Di kertas itu juga tertera tulisan kalung bandul. Belum diketahui maksud dari informasi yang tertera di secarik kertas itu. Namun, diduga tiga nama itu merupakan orang terdekat Hariyanto.

“Itu bukan surat wasiat, mungkin hanya petunjuk bahwa mereka adalah orang terdekat korban. Makanya, di situ tertera nomor telepon,” jelas Suratman.

Setelah kejadian itu, polisi dan sejumlah sukarelawan dari RAPI, PMI dan lain-lain mendatangi lokasi. Polisi meminta keterangan sejumlah saksi mata. Oleh sukarelawan, potongan tubuh Hariyanto dibawa ke Ruang Jenazah RSU Islam Yakssi Gemolong, Sragen.

“Saya sudah memanggil orang tua korban ke Mapolsek Gemolong. Menurut keterangan orang tuanya, korban memang sedang mengalami depresi karena suatu masalah. Jadi, sebelum menabrakkan diri ke kereta, dia memang terlihat seperti orang yang kebingungan,” jelas Kapolsek Gemolong AKP I Ketut Putra.