Ada Klinik Unik di Boyolali, Warga Bisa Berobat Bayar Pakai Sampah

Ilustrasi pengelolaan sampah. (Dokumentasi)
27 Februari 2019 16:30 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI—Menemukan solusi atas permasalahan sampah di lingkungan masyarakat kini dilakukan oleh sejumlah lembaga nirlaba. Salah satunya Yayasan Arsada, Sambi, Boyolali.

Yayasan yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat dan kesehatan ini bakal memulai program Klinik Sampah awal Maret nanti.

Klinik Sampah Arsada Medika merupakan gerakan tukar sampah dengan layanan kesehatan. Warga yang menjadi anggota klinik sampah ini akan mendapatkan layanan-layanan kesehatan berupa konsultasi medis, pemeriksaan kesehatan, panduan kesehatan keluarga, dan pelayanan ambulans ke rumah sakit jika mengalami kondisi darurat.

“Syaratnya cukup mendaftar dengan mengisi formulir, mengumpulkan kartu keluarga (KK) dan kartu tanda penduduk (KTP),” ungkap Sekretaris Yayasan Arsada, Ichsanudin, kepada Solopos.com, Selasa (26/2/2019).

Klinik Sampah Arsada Medika akan resmi dibuka pada Senin (4/3/2019) pekan depan. Praktik dokter umum dapat dimanfaatkan oleh anggota mulai Senin hingga Jumat pada pukul 16.00 WIB.

Sementara pada hari Sabtu pada waktu yang sama ada pelayanan kebidanan dan pengobatan dengan sistem bekam. Seluruh pelayanan itu dibuka di kantor yayasan di Jalan Bangak-Simo km 6,5 Sambi, Boyolali.

Lebih lanjut, Ichsan mengungkapkan yayasan tak membatasi jumlah pengumpulan sampah. Petugas khusus akan mengambil sampah-sampah tersebut ke rumah warga tiap dua pekan sekali.

Hanya saja dia menekankan sampah yang bisa dikumpulkan merupakan sampah yang bisa didaur ulang. Sampah ini diklasifikasikan dalam tujuh jenis, yaitu kertas baik berupa koran bekas, kardus, maupun sak semen; kaleng bekas makanan dan minuman; besi; baja; tembaga; alumunium; serta plastik yang meliputi botol air mineral dan barang-barang rumah tangga berbahan dasar plastik.

Kaum Perempuan

Awalnya program Klinik Sampah bakal diprioritaskan bagi warga Sambi. “Namun karena antusiasme warga yang membludak kemarin ada warga dari luar Sambi yang tertarik sehingga jangkauan kami perluas,” imbuh dia.

Saat ini Klinik Sampah belum memiliki anggota resmi, namun hingga Selasa sudah ada 40-an formulir yang diambil warga. Pendaftaran anggota ini pun akan dibuka secara berkelanjutan tanpa batas waktu.

Klinik Sampah tidak menentukan berat minimal sampah yang wajib disetorkan para anggota untuk mendapatkan layanan kesehatan. “Rencana awal memang sepuluh kilogram, tapi karena kami rasa memberatkan jadi tidak kami batasi,” kata dia. Warga bebas mendapatkan layanan kesehatan bentuk apapun selama masih aktif menyetorkan sampah.

Sebelum memulai gerakan ini Ichsan bersama tim telah melakukan sosialisasi ke beberapa kelompok Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan kelompok perempuan di wilayah Sambi. “Sasaran kami kaum perempuan karena mereka adalah orang yang lebih berperan dalam pengaturan kebutuhan rumah tangga,” tutur dia.