Komputer dan Peralatan Medis RSIS Sukoharjo Raib Belum Dilaporkan ke Polisi

Sejumlah karyawan RSIS Pabelan, Kartasura, Sukoharjo beristirahat setelah bekerja bakti bersih-bersih, Rabu (27/2/2019). (Solopos - Iskandar)
28 Februari 2019 13:15 WIB Iskandar Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Kapolsek Kartasura, AKP Sarwoko, mengaku hingga Rabu (27/2/2019) belum menerima dari pengelola Rumah Sakit Islam Surakarta (RSIS) Kartasura, Sukoharjo, terkait kehilangan komputer dan peralatan medis.

Hilangnya barang-barang itu diketahui setelah para karyawan bersama Yayasan Rumah Sakit Islam Surakarta (Yarsis) membuka segel rumah sakit dan memeriksa berbagai sarana dan prasarana gedung yang tak digunakan selama tujuh bulan lebih.

Segel rumah sakit dibuka pada Selasa (26/2/2019) dan hingga kini para karyawan masih terus melakukan bersih-bersih sekaligus inventarisasi. Kapolsek memperkirakan kehilangan itu akan dilaporkan setelah eksekusi pengadilan atas RSIS dilakukan.

”Mestinya laporan baru akan dilakukan setelah ada pihak yang berhak sesuai putusan pengadilan. Saat ini sejumlah karyawan yang hadir di RSIS juga masih menginventarisasi barang-barang kantor,” ujar mewakili Kapolres Sukoharjo, AKBP Iwan Saktiadi, Rabu.

Pantauan Solopos.com, para karyawan bekerja bakti membersihkan berbagai tempat di kompleks RSIS yang telah lama tak beroperasi ini secara bergiliran. “Sekarang ini teman-teman masuk bergiliran untuk melanjutkan membersihkan beberapa ruang dan memotongi rumput di luar gedung. Teman-teman tidak bisa datang bersama-sama karena mereka juga mempunyai kesibukan masing-masing,” ujar salah seorang karyawan setempat, Sum, ketika ditemui wartawan di sela-sela kerja bakti, Rabu.

Sum yang mengaku telah bekerja di RSIS selama 23 tahun lebih ini berharap rumah sakit yang dulu pernah berjaya ini bisa segera beroperasi lagi. Dengan demikian ratusan karyawan yang selama ini bekerja di RSIS bisa segera mendapat penghasilan dari rumah sakit ini.

“Selama karyawan dirumahkan kami banyak yang tidak bekerja. Saya juga tidak bekerja sehingga kalau lewat di depan rumah sakit ini sampai mengelus dada teringat bekerja di sini bersama teman-teman lainnya. Apalagi saya termasuk salah satu yang awal bekerja di sini sejak rumah sakit ini masih kecil, kok sekarang tinggal menikmati hasil karena sudah besar kok malah ada konflik,” ujar dia.

Sementara itu karyawan lainnya, Bambang dan Suyanto, yang dulu bekerja di bidang keperawatan juga berharap RSIS bisa segera beroperasi lagi. Selama RSIS vakum, Bambang mengajar di Stikes Boyolali dan Suyanto menjadi mantri kesehatan di rumahnya kawasan Kalijambe, Sragen.

“Kalau ada tetangga yang sakit atau sunat saya layani. Kalau bicara keuangan dengan menjadi mantri cukup atau tidak, tentu tidak cukup. Karena sekarang saya hanya dapat penghasilan dari menjadi mantri saja,” ujar dia.

Menurut mereka, kondisi gedung RSIS cukup memprihatinkan. Selain itu sejumlah peralatan computer raib dan obat-obatan yang masih tersisa juga berantakan.

Oleh sebab itu sejumlah karyawan membereskan dan meneliti obat-obatan yang masih bisa digunakan. Sedangkan obat-obatan yang sudah rusak dan kedaluwarsa dibuang.