Proyek Waduk Jlantah Karanganyar Belum Mulai, Warga Sudah Siapkan Produk Oleh-Oleh Wisata

Warga Jatiyoso melintasi jembatan penghubung Desa Karangsari dan Desa Tlobo, Rabu (27/2/2019). Kedua desa tersebut dipisahkan Sungai Jlantah dan Sungai Puru. - Wahyu Prakoso
28 Februari 2019 13:10 WIB Wahyu Prakoso Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Warga Desa Karangsari, Kecamatan Jatiyoso, Karanganyar, menyambut potensi wisata dari Bendungan Jlantah dengan mempersiapkan diri untuk membuka usaha. Warga ingin membuat produk oleh-oleh bila Waduk Jlantah menjadi objek wisata.

Salah satu warga Dukuh Tlogo Ledok, Parno, mengaku baru pulang dari merantau di Bandung. Dia menerima undangan konsultasi publik pengadaan tanah untuk proyek bendungan Jlantah. Pria 38 tahun tersebut mendukung adanya proyek Bendungan Jlantah.

“Kedua mertua saya tinggal di Tlobo Ledok, Dusun Gondang, Desa Karangsari, Jatiyoso. Kami memiliki lahan seluas 1.500 meter persegi. Yang penting kami mendapatkan ganti untung, prosesnya lancar, dan ada kejelasan kapan waktunya,”katanya kepada Solopos.com saat ditemui di lahannya, Rabu (27/2/2019).

Parno mengaku, belum memiliki rencana pasti apabila proses pengadaan tanah proyek Jlantah selesai. Dia mengatakan, akan mengajak mertuanya pindah ke Bandung atau membelanjakan tanah dan rumah uang ganti kerugian di Desa Karangsari. Dia menunggu berapa jumlah ganti kerugian yang akan diterima.

Senada dengan parno, warga dusun Tlobo Sempon, Andi, 25, mengatakan mendukung pembangunan Bendungan Jlantah. Dia mengaku, memiliki lahan seluas 4988 meter persegi yang ditanami pohon jati.

“Dulunya banyak warga yang menolak. Setelah adanya sosialisasi justru semua warga mendukung karena waduk akan menjadi potensi perbaikan ekonomi warga. Saya berencana memakai uang ganti kerugian untuk membuka usaha,”katanya kepada Solopos.com.

Sekertaris Desa Karangsari, Sigit Prayitno, 31, menjelaskan wilayah desanya yang akan dipakai proyek tersebut ada tiga dusun, yaitu Dusun Gondang, Wates, dan Tlobo Sempon.

“Mayoritas masyarakat sebagai petani. Hasil bumi berupa padi, jagung, singkong, dan sayuran. Tanah di sini subur bahkan bisa panen padi sepanjang tahun. Sangat Produktif,”katanya kepada Solopos.com.

Sigit mejelaskan, seluruh warga setuju Dengan proyek Bendungan Jlantah. Masyarakat melihat proyek tersebut akan lebih menguntungkan dalam jangka panjang.

“Selain untuk irigasi, bendungan juga sebagai objek wisata. Kami melihat potensi itu. Kami sudah menggunakan dana desa 2018 untuk pelatihan pembuatan kue untuk oleh-oleh,”ujarnya kepada Solopos.com.

Sigit berharap, pembangunan proyek bendungan dapat berjalan lancar, adanya objek wisata baru dapat menyerap tenaga kerja, dan meningkatkan perekonomian warga Karangsari.