Warga Kartasura Tewas Dimassa, Ibunda Lanung Pasrah

Jasad Lanung Nugroho dimakamkan di Permakaman Windan 20 meter dari kediamannya di Windan, Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo, Jumat (1/3 - 2019). (Solopos/Iskandar)
01 Maret 2019 20:40 WIB Iskandar Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Lanung Nugroho, 38, warga Windan, Kartasura, Sukoharjo, menjadi korban amuk massa, Kamis (28/2/2019) malam. Dia mengalami luka serius karena lemparan batu dan pukulan galah warga. Saat amuk massa terjadi Lanung membawa dua belati.

Peristiwa amuk massa itu terjadi karena warga sudah gerah dengan tindakan Lanung di kampung mereka yang kerap meresahkan. Ibunda Lanung, Sri Hartini, 62, kepada wartawan di kediamannya, Jumat (1/3/2019), mengaku pasrah dengan peristiwa itu.

Keluarga, menurut Sri, tak akan menuntut insiden amuk massa yang menewaskan putra ketiganya itu. Lanung merupakan anak ketiga dari empat bersaudara.

“Adik saya meninggal di tempat kejadian setelah dikeroyok warga di jalan raya kawasan Windan. Saya kebetulan tidak di rumah dan dikabari warga sekitar pukul 22.00 WIB,” ujar kakak korban, Ariyanto, 45, ketika ditemui wartawan di Mapolsek Kartasura, Jumat (1/3).

Menurut dia keluarga sudah pasrah atas kejadian tersebut. Sebab keluarga mengaku kewalahan menegur korban yang dinilai sering mabuk tak terkendali setelah mengonsumsi pil.

Ibunda Lanung mengaku keluarga juga sudah kewalahan dengan perilaku putranya itu. “Dulu ketika ayahnya masih ada memang sering kali dimanja. Akhirnya setelah dewasa menjadi nakal sekali dan memang sering membuat resah warga di sini,” ujar dia sambil menambahkan jenazah putranya langsung dimakamkan di makam Windan sebelah rumahnya pada Kamis malam.

Ibunda Lanung itu mengungkapkan biasanya sehabis mengonsumsi pil, perangai anaknya sering kali berubah kasar dan mengamuk. Hal itu juga terjadi ketika dia berada di luar rumah.

Karena itu pihak keluarga juga tidak keberatan ketika warga mengancam memberi pelajaran kepada Lanung. Perbuatan Lanung yang sering mengompas warga dan berangasan di kampung dinilai amat meresahkan.