Butuh 1.001 Anak Tangga untuk Menjangkau Kampung Terpencil di Klaten

Rombongan pejabat Pemkab Klaten menyusuri anak tangga menuju kampung Girpasang, Kemalang, Klaten, belum lama ini. (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
01 Maret 2019 00:00 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Jalan beton menjadi pemisah antarrumah di Dukuh Girpasang, Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Klaten. Mayoritas rumah berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, beratap genting yang menjamur, dan penopang berupa kayu atau bambu. Kebun bunga, sayuran, serta kandang ternak mengisi pekarangan rumah warga.

Berjarak sekitar 25 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Klaten, perkampungan itu jauh dari hingar bingar kota. Kendaraan bermotor tak terlihat berseliweran di jalan kampung. Mobilitas warga dilakukan dengan berjalan kaki.

Perkampungan itu berada di kawasan lereng Gunung Merapi dan berjarak sekitar 4 km dari puncak gunung. Berada di wilayah perbukitan dengan ketinggian sekitar 1.100 meter dari permukaan laut (Mdpl), Girpasang kerap tertutup kabut.

Suasana asri Girpasang dipadu dengan keramahan warganya. Keramahan itu seperti yang dirasakan Solopos.com saat mendatangi Girpasang, Sabtu (23/2/2019). Meski belum mengenal, warga dengan ramah menyapa atau meminta mampir ke rumah mereka. “Mangga pinarak riyen [silakan mampir dulu],” kata salah satu warga Girpasang, Slamet Mulyono, 45, sembari menawarkan teh hangat kepada Solopos.com di rumahnya.

Begitulah gambaran sekilas suasana Dukuh Girpasang, perkampungan yang hanya dihuni 12 keluarga terdiri dari 35 jiwa yang tinggal di sembilan rumah. Mayoritas warga bekerja sebagai petani sayuran dan beternak. Ada pula yang menjadi buruh sayur di sekitar wilayah Tegalmulyo.

Girpasang selama ini dikenal sebagai perkampungan terpencil di Kabupaten Bersinar. Dukuh yang berada di punggung bukit dan terpisahkan jurang selebar 100an meter dengan perkampungan lainnya di Desa Tegalmulyo. Kedalaman jurang sekitar 130 meter.

Kampung itu tak bisa didatangi menggunakan sepeda motor bahkan mobil. Satu-satunya akses bagi warga yakni jalan kaki melewati jalan setapak di tepi tebing jurang yang berkelok dan naik-turun sepanjang 1 km. Ada dua jalur yang bisa dilalui menuju Girpasang yakni dari Dukuh Ngringin dan Dukuh Gedongijo.

Akses yang tersambung ke Dukuh Ringin menjadi jalur utama warga lantaran sudah berupa anak tangga yang diperkeras dengan semen dan pasir. Panjang masing-masing anak tangga sekitar 1,5 meter. Belakangan warga setempat menyebut akses tersebut dengan nama 1.001 anak tangga meski jumlahnya mencapai 1.100an anak tangga. Sementara, jalur dari wilayah Gedongijo masih berupa tanah ditumbuhi rerumputan serta pohon.

Sepanjang perjalanan dari Ringin-Girpasang mata disuguhi hijaunya vegetasi. Pohon bambu tumbuh lebat di kawasan tersebut selain tanaman keras lainnya. Di dasar jurang, ada sumber air yang kerap menjadi alternatif bagi warga saat memasuki musim kemarau.

Warga Girpasang sudah terbiasa melewati jalur tersebut tanpa beristirahat di tengah perjalanan meski membawa beban seperti sayuran atau arang. Begitu pula dengan anak-anak Girpasang saban mereka berangkat atau pulang sekolah. Ada sekitar lima anak yang menempuh pendidikan jenjang TK hingga SMP. Rata-rata, waktu tempuh warga 15-30 menit menuju Ringin.

Namun, bagi warga yang tak biasa melintasi jalur tersebut, perjalanan menuju Girpasang menjadi jalan kampung tersulit. “Perjalanan dari Ringin menuju Girpasang sekitar 45 menit. Saya sendiri baru pertama dan hampir pingsan karena juga kondisi badan sedang tidak fit. Namun, semua terbayar dengan keramahan warga dan kondisi alamnya yang masih hijau,” kata Taufiqurrohman, 22, salah satu Sukarelawan Demokrasi KPU Klaten saat mendatangi kampung itu Sabtu.

Gambaran sebagai kampung terpencil juga terlihat dari akses energi listrik. Sebelum 2010, penerangan rumah warga saat malam masih mengandalkan teplok di saat warga di perkampungan lainnya sudah menikmati akses listrik. Bantuan dari provinsi dan kabupaten pun berdatangan hingga panel surya terpasang di atap rumah warga sekitar 2012. Hanya, energi yang dihasilkan dari panel surya hanya cukup untuk menyalakan lampu.

Warga terus mencari cara agar kampung mereka benar-benar teraliri listrik termasuk menggantol listrik dari rumah warga yang ada di seberang jurang. Hingga pada 2015, jaringan listrik mulai menjangkau wilayah Girpasang. “Sejak listrik mengalir, warga mulai mengenal ponsel serta televisi,” jelas Kepala Desa Tegalmulyo, Sutarno, saat ditemui Solopos.com di Girpasang, Rabu (27/2/2019).