Dugaan Aborsi di Polindes di Ceper Klaten, Bidan Desa Diperiksa Polisi

Garis polisi terpasang di Polindes Kajen, Kecamatan Ceper, Klaten, Jumat (1/3/2019). Pada Selasa (26 - 2) malam, polisi menggeledah polindes tersebut terkait dugaan kasus aborsi. (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
01 Maret 2019 19:00 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Seorang bidan desa yang bertugas di wilayah Kecamatan Ceper, Klaten, diperiksa aparat Polres Klaten. Bidan desa berinisial Ar yang bertugas di Desa Kajen tersebut diperiksa karena kasus dugaan aborsi.

Berdasarkan pantauan, garis polisi terpasang pada pagar Poliklinik Desa (Polindes) yang berada di Dukuh Topeng, Jumat (1/3/2019). Pintu alumunium serta dua jendela yang berada di bagian depan polindes tertutup rapat. Polindes yang menjadi tempat praktik bidan berinisial Ar tersebut bersebelahan dengan kantor Desa Kajen dan berada di tepi gang masuk kampung.

Polisi sudah menggeledah Polindes tersebut pada Selasa (26/2/2019) malam lalu sekitar pukul 24.00 WIB selama 30 menit. “Saat itu yang ikut penggeledahan saya dan Pak Sekdes. Saya berada di luar Polindes. Sementara, Pak Sekdes yang ikut ke dalam,” kata Kaur Tata Usaha dan Umum Desa Kajen, Bondan Ari Sungkowo, saat ditemui wartawan di rumahnya, Jumat (1/3/2019) sore.

Bondan mengatakan rombongan polisi datang menumpang dua mobil. Ar ikut dalam rombongan tersebut serta berada di dalam polindes selama penggeledahan berlangsung. Selama pemeriksaan berlangsung, Ar tidak berbincang dengan perangkat desa.

“Namun, Bu Bidan kondisinya biasa saja. Pintu Polindes sempat sulit untuk dibuka. Dia yang mengarahkan cara membuka pintunya. Setelah penggeledahan selesai, ia ikut bersama polisi,” jelas Bondan.

Dari penggeledahan tersebut, polisi membawa sejumlah barang dari Polindes. Barang-barang itu di antaranya seperangkat gunting serta baskom yang biasa digunakan untuk persalinan. “Setahu saya ada juga satu alat untuk membantu persalinan bentuknya seperti pipa. Tetapi, nama alatnya apa saya kurang tahu,” ungkap Bondan.

Bondan mengaku awalnya tak mengetahui tujuan penggeledahan tersebut dilakukan. Awalnya dia menduga penggeledahan terkait kasus pencurian yang dilaporkan Ar ke Polsek Ceper. Sebelumnya, Ar sempat melapor ke polsek lantaran kehilangan ponsel saat bertugas di Polindes. “Setelah seluruh proses penggeledahan malam itu selesai, saya baru dikasih tahu kalau itu terkait dugaan aborsi,” tutur dia.

Bondan mengatakan Ar selama ini aktif dalam kegiatan di desa terutama menyangkut kesehatan. Beberapa hari sebelum penggeledahan berlangsung, Ar masih aktif dalam kegiatan Posyandu. Ar selama ini juga melayani pengobatan di Polindes.

“Karena termasuk bidan senior, kegiatannya lebih banyak di puskesmas. Praktik di Polindes biasanya antara pukul 08.00 WIB hingga 12.00 WIB. Selama ini, banyak masyarakat yang cocok memeriksakan kesehatan mereka ke polindes. Setahu saya, saat periksa itu urusannya lebih banyak dengan anak-anak. Kalau persalinan saya tidak tahu,” jelas dia.

Pedagang angkringan yang berjualan di depan Polindes, Ndari, 40, mengatakan selama ini pasien Polindes terhitung banyak. Jam praktik polindes juga hanya berlangsung selama jam kerja. “Kalau Bu Bidan itu setahu saya orangnya baik. Selasa siang itu saya masih bertemu. Kalau jam praktik, hanya saat jam kerja saja. Kalau malam setahu saya tidak ada,” tutur dia.

Soal tempat tinggal, Ar diketahui tidak menetap di Desa Kajen. Bidan tersebut tinggal di rumah dinas yang berada berdekatan dengan Koramil Ceper, Desa Ceper. “Kalau tidak salah baru dua pekan ini membuka praktik di Ceper [rumah dinas],” katanya.

Kapolres Klaten, AKBP Aries Andhi, mengatakan belum ada penetapan tersangka terkait dugaan kasus aborsi tersebut. “Sudah ada lima orang yang diperiksa. Tetapi, belum ada penetapan tersangka. Segera kami sampaikan kalau ada tersangka,” katanya.