BPBD Wonogiri Ajak Warga Tanam Akar Wangi untuk Kurangi Erosi

Personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri menyemai bibit akar wangi ke dalam polibag di kantor BPBD Wonogiri, Kelurahan Wuryorejo, Wonogiri, Selasa (26/2 - 2019). (Solopos/Cahyadi Kurniawan)
01 Maret 2019 15:05 WIB Cahyadi Kurniawan Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, Jawa Tengah, mengajak masyarakat menanam akar wangi di bantaran sungai dan tanah yang miring. Hal itu penting sebagai bagian upaya mitigasi bencana.

BPBD Wonogiri menginisiasi penanaman akar wangi itu dengan melakukan pembibitan akar wangi secara mandiri di kompleks kantor setempat. Pada hari pertama pembibitan dihasilkan 140 polybag bibit akar wangi yang dikembangkan dari tanaman yang ada di taman kantor setempat. Bibit itu menurut rencana akan ditanam di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) dan hulu Waduk Gajah Mungkur.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Wonogiri, Bambang Haryanto, mengatakan penanaman akar wangi bagus untuk mengurangi laju erosi. Akar tanaman itu juga tumbuh kuat ke dalam dan ke samping memberikan ikatan kuat kepada tanah.

“Tanaman di tepi sungai biasanya bambu. Kami imbau masyarakat agar menanam akar wangi untuk di kawasan bantaran,” kata dia, saat dihubungi solopos.com, Rabu (27/2/2019).

Bambang Haryanto menjelaskan penanaman bambu di bantaran sungai kurang tepat. Saat bambu tumbuh membesar, pertumbuhannya cenderung menjorok ke air. Hal itu memicu erosi yang tinggi. Saat aliran sungai besar, rumpun bambu besar itu hanyut.

“Volumenya yang besar memengaruhi arus air. Air bergerak tak tentu arah. Menanam bambu di bantaran boleh asal dirawat, sebab bambu memiliki berat yang besar sedangkan akarnya hanya di permukaan,” imbuh dia.

Hal senada juga terjadi kawasan Gunung Pegat, Kecamatan Nguntoronadi, Wonogiri. Di kawasan itu setiap musim penghujan terjadi tanah longsor yang salah satunya dipicu keberadaan tanaman bambu. Akar tanaman bambu tak menghujam ke dalam. Di sisi lain, massa tanaman ini besar.

Akibatnya, rumpun bambu tumbang disusul dengan tanah longsor. “Tanaman bambu di tanah kondisi miring bisa diganti dengan akar wangi. Sebab, akar wangi mengikat tanah dengan kuat. Hal in bisa mengantisipasi tanah longsor,” beber dia.

Bambang Haryanto menerangkan selain berfungsi sebagai mitigasi bencana, akar wangi yang ditanam memiliki nilai ekonomi. Di Bulukerto, akar tanaman ini diolah menjadi aneka kerajinan bernilai ekonomi tinggi. Manfaat ini diharapkan menjadi keuntungan ganda bagi masyarakat.

“Upaya ini tentu tak bisa dilakukan sendirian. BPBD akan mengajak Forum Pengurangan Risiko Bencana dan seluruh elemen masyarakat agar menanam akar wangi di lahan miring dan bantaran sungai,” harap dia.