Girpasang Klaten dan Kisah Punggung Bukit Pilihan Ki Trunosono

Warga berjalan di jalan perkampungan Girpasang, Kemalang, Klaten.
02 Maret 2019 09:00 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Di antara rumah-rumah di Girpasang, tinggal sesepuh desa setempat bernama Patmo, 69. Rumahnya berada pada tanah lebih tinggi dibanding jalan dan tak jauh dari bangunan menyerupai pos ronda dengan seluruh sisi tertutup tembok kecuali bagian depannya terdapat pintu dan kaca. Warga setempat menyebut tempat itu bungker yang berfungsi untuk perlindungan diri ketika Merapi bergejolak.

Patmo belum bisa berjalan dan harus digendong untuk berpindah tempat. Gips masih membungkus kaki kanannya. Belum lama ini ia dirawat selama lima hari dan menjalani operasi di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten setelah kakinya terkena kapak. Peristiwa itu terjadi saat bapak dua anak dan kakek dua cucu itu berkebun. Secara tidak sengaja kapak yang ia selipkan pada ikat pinggang terjatuh mengenai kaki kanannya. Patmo mengalami pendarahan hingga warga bergegas membawa Patmo menuju ke Puskesmas Kemalang menggunakan sarung melewati jalan setapak di tepi tebing. Patmo lantas dirujuk ke RSUP.

Soal sejarah, Patmo, menceritakan cikal bakal Girpasang tak bisa dilepaskan dari sosok leluhur kampung itu bernama Ki Trunosono. Awalnya, Ki Trunosono tinggal di wilayah Kapuan di kawasan lereng Merapi tak jauh dari Gunung Bibi atau Gunung Ijo.

Ki Trunosono lantas mendapat titah dari dari Raja Keraton Solo untuk memilih lokasi yang akan dipimpinnya. Ki Trunosono memilih punggung bukit yang menjadi cikal bakal Girpasang. "Sejak kapan menempati Girpasang itu sudah lama sekali. Mungkin sebelum [penjajahan] Belanda," kata Patmo saat ditemui Solopos.com di rumahnya, Sabtu (23/2/2019).

Ki Trunosono memiliki sembilan anak. Dari sembilan anak tersebut, mereka tinggal berpencar. Ada sejumlah anak yang tinggal di perkampungan yang kini bernama Girpasang yakni yakni Ki Truno Pawiro, Ki Truno Rejo, dan Rajiyo. Ki Truno Pawiro merupakan kakek Patmo. "Jumlah keturunannya terus bertambah hingga saat ini. Saya merupakan keturunan keempat. Sementara, cucu saya sekarang keturunan keenam dari eyang," kata Patmo.

Patmo menjelaskan leluluhurnya mewariskan tradisi yang sampai saat ini masih terjaga. Tradisi itu seperti membuat nasi punar saat Idulfitri. Saban 35 hari sekali, warga berkumpul dan menggelar tradisi apeman. Tradisi tersebut digelar setiap malam Jumat Legi dengan menggelar kenduri apam.

Warga Girpasang, Slamet Mulyono, 45, mengatakan tradisi apeman digelar di betuas atau tempat berkumpulnya warga yang berada di rumah Slamet saban malam Jumat Legi. Saat memasuki putaran ketujuh tradisi apeman, warga menggelar tradisi golong berupa kenduri yang menyajikan nasi golong atau nasi yang dibuat dengan dikepal-kepal. Tradisi itu digelar sebagai bentuk syukur warga atas limpahan hasil bumi yang hingga kini masih bisa dinikmati.

“Nenek moyang berkata tradisi ini bertujuan memohon agar kebun terhindar dari serangan hewan. Di sini banyak kera kalau menanam palawija dan jagung diberi keselamatan,” jelas Slamet.

Selain itu, ada tradisi khusus ketika warga menjual ternak mereka seperti sapi. Sebelum sapi digiring berjalan kaki menyusuri tebing jurang hingga dijual, warga menggelar ritual memetri. “Memetri itu ya seperti syukuran. Kalau harganya lebih dari Rp15 juta, sajian bisa berupa ingkung serta nasi tumpeng. Tujuannya agar diberi keselamatan dan sampai tujuan karena jalannya sangat rawan,” kata dia.

Sukarelawan Desa Tegalmulyo, Subur, mengatakan selama ini tradisi masih kental bagi warga Girpasang. Begitu pula ajaran untuk memuliakan setiap tamu. “Coba saja bertamu ke rumah warga Girpasang. Pasti warga akan menjamu dengan apa yang mereka miliki,” katanya.