APK Menjamur di Desa Wilayah Sragen, Bukti Warga Melek Politik?

Puluhan bendera dan APK dari sejumlah parpol dan caleg menjamur di depan gapura pintu masuk Desa Pengkok, Kedawung, Sragen, Minggu (3/3/2019). (Solopos - Tri Rahayu)
03 Maret 2019 22:30 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Desa Pengkok, Kecamatan Kedawung, Sragen, seperti desa kampanye karena bertebaran aneka alat peraga kampanye (APK) dari berbagai partai politik (parpol).

Hampir di setiap rumah terdapat juga spanduk bergambar calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) dari pasangan nomor urut 1 dan 2. Setiap gang sampai jembatan dijumpai APK berupa spanduk atau bendera parpol.

Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati saat berkunjung ke desa itu sampai menyindir warganya karena jembatan yang mestinya steril dari APK justru jadi ajang pasang APK.

Belum lagi jalan protokol menuju Balai Desa Pengkok juga berjajar di kanan dan kiri jalan bendera dari berbagai parpol dan spanduk capres-cawapres nomor urut 1 dan 2.

“Iya, dari pintu masuk desa seperti hutan APK karena banyak bendera dan APK lainnya. APK itu ditertibkan satu besoknya dipasang lagi. Ya, ibarat mati satu tumbuh seribu ya APK itu. Yang di depan gapura masuk itu belum lama ini ditertibkan tetapi sekarang sudah menjamur lagi. Yang masang ya warga sendiri dengan biaya sendiri,” ujar Kepala Desa Pengkok, Kedawung, Sragen, Warijo, saat berbincang dengan Solopos.com di Pengkok, Minggu (3/3/2019).

Warijo menyampaikan Pengkok menjadi hutan APK karena banyak faktor, di antaranya ada tiga calon anggota legislatif (caleg) dari Pengkok, dua di antaranya petahana, yakni Caleg Partai Gerindra Hagung Bayu Aji dan Caleg Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Sugiyarto.

“Di sisi lain, ekonomi masyarakat Pengkok tergolong mampu untuk membeli APK sendiri. Jadi banyak sukarelawan beda pilihan di Pengkok. Yang disyukuri itu semua warganya tetap rukun meskipun beda pilihan. APK-APK itu hari ini ditertibkan besok muncul lagi,” ujarnya.

Warijo bersyukur pesta demokrasi 2019 ini benar-benar jadi pesta bagi warga Pengkok. Banyaknya APK itu, kata dia, menunjukkan tingkat kesadaran berpolitik dan berdemokrasi yang tinggi di Pengkok dengan jumlah penduduk mencapai 11.000 jiwa.

Dengan kesadaran tersebut, Warijo melihat angka partisipasi pemilih di Pengkok relatif tinggi bila dibandingkan desa lain. Pada Pemilihan Gubernur 2018 saja, sebut dia, jumlah pemilih yang hadir ke tempat pemungutan suara (TPS) mencapai 5.600-an orang atau 81,16% dari total pemilih 6.900-an orang.

“Pada Pemilu 2019 ini pun targetnya jumlah partisipasi pemilih mencapai 6.000-an orang atau 85,43% dari jumlah pemilih dalam daftar pemilih tetap sebanyak 7.023 pemilih,” ujarnya.

Legislator DPRD Sragen, Sugiyarto, yang juga warga Pengkok, membenarkan Pengkok menjadi ajang kampanye banyak caleg dan parpol karena jumlah penduduknya terhitung paling besar di wilayah Kecamatan Kedawung.

Sugiyarto melihat masyarakat Pengkok guyup rukun karena ada satu rumah pendukung capres-cawapres nomor urut 2 yang diapit pendukung capres-cawapres nomor urut 1 pun tak ada konflik.

Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sragen, Dwi Budhi Prasetya, mengatakan Bawaslu bersama Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam) se-Kabupaten Sragen menertibkan APK secara serentak pada Sabtu (2/3/2019) lalu.

Budhi menyampaikan khusus di wilayah Kedawung memang belum dilakukan penertiban karena stakeholders Kecamatan Kedawung yang terkait penertiban APK ada kegiatan yang lebih penting.

“Hasil penertiban APK Sabtu lalu ada 1.383 lembar yang ditertibkan. APK tersebut terdiri atas baliho, spanduk, banner, bendera, dan stiker,” katanya.