Gerabah dan Periuk di Kuburan Kuno Sragen Akan Diuji Laboratorium

Dua anggota tim arkeolog membesihkan kuburan kuno di Dusun Toho, Desa Bukuran, Kalijambe, Sragen, Sabtu (2/3/2019). (Solopos - M. Khodiq Duhri)
03 Maret 2019 23:30 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Permukaan tanah masih basah oleh hujan yang turun malam sebelumnya. Dengan kaki telanjang, dua wanita muda terjun ke sebuah lubang tanah berukuran sekitar 2 meter x 3 meter.

Berbekal kuas, keduanya membersihkan pecahan-pecahan periuk yang ditemukan di lokasi ekskavasi kuburan kuno di Dusun Toho, Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe, Sragen.

Dua wanita muda itu adalah Riyana Wulan Pradipta, 24, dan Pipit Meilinda, 26. Mereka adalah dua srikandi dalam tim arkeolog yang terlibat dalam kegiatan kajian potensi cagar budaya Situs Sangiran tahap II.

Kajian itu berlangsung sejak Jumat (22/2/2019) hingga Selasa (5/3/2019). Kegiatan ini digelar untuk mengetahui sebaran kubur kuno yang kental dengan tradisi peninggalan zaman megalitikum serta mengkaji hasil temuan dari kegiatan ekskavasi.

Dua kubur kuno berhasil ditemukan tim arkeolog di titik ekskavasi Dusun Toho. Di sekitar dua kubur kuno tersebut terdapat banyak pecahan gerabah atau periuk yang sudah menyatu dengan tanah.

Dibutuhkan kehati-hatian dan ketelitian yang ekstra untuk menyelamatkan ‘harta karun’ yang akan memperkaya khasanah nilai-nilai budaya di Situs Sangiran itu.

“Kami tertantang menyelamatkan temuan ini sampai ke laboratorium dengan meminimalkan kerusakan sesedikit mungkin. Tanah yang menempel di pecahan gerabah atau periuk itu sebisa mungkin harus dihilangkan. Tapi, kalau semua tanah yang menempel harus dihilangkan itu rasanya mustahil,” ujar Pipit Meilinda saat berbincang dengan Solopos.com di lokasi, Sabtu (2/3/2019).

Sejauh ini belum diketahui apa fungsi gerabah atau periuk yang ditemukan di kubur kuno tersebut. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut melalui laboratorium untuk mendeteksi fungsi gerabah atau periuk itu.

Periuk itu bisa jadi digunakan untuk menyimpan benda-benda berharga seperti emas, manik-manik, dan lain sebagainya. Setidaknya benda-benda berharga tersebut yang pernah ditemukan warga sekitar di kubur kuno yang biasa mereka sebut dengan istilah Kubur Buddha.

Namun, bisa juga gerabah dan periuk tersebut merupakan bagian dari perkakas atau peralatan memasak. “Apa fungsi dari gerabah atau periuk itu nanti baru terjawab setelah dianalisis di laboratorium. Di dalam gerabah atau periuk itu masih ada tanah yang belum dikorek. Kami belum tahu apakah di dalam tanah itu ada isinya,” jelas Riyana Wulan Pradipta, arkeolog muda asal Bantul ini.

Ini adalah penelitian di bidang arkeologi untuk kali kesekian yang diikuti Pipit dan Dipta. Sebelumnya, Pipit lebih banyak terlibat dalam sejumlah kegiatan ekskavasi situs candi peninggalan zaman Majapahit. Menurutnya, tantangan setiap ekskavasi berbeda-beda.

“Untuk mengangkat temuan ini, idealnya memakai bahan kimia untuk mencegah terjadinya kerusakan. Tapi, nanti kami akan menggunakan peralatan seadanya. Pastinya secara manual. Proses pengangkatan temuan ini nanti akan didokumentasikan supaya kami tidak kehilangan data,” ucap Pipit yang berasal dari Depok ini.

Proses yang tak kalah sulit adalah membuat rekontruksi dari gerabah atau periuk itu. Setelah pecahan gerabah itu dibersihkan dan dianalisis di laboratorium, rekonstruksi menjadi tahapan selanjutnya.

Pecahan-pecahan gerabah ini akan diukur terlebih dulu. Proses rekonstruksi seperti halnya menyusun puzzle. “Bila cocok, bisa direkatkan pakai lem khusus. Tapi itu juga bukan perkara mudah mengingat gerabah itu sudah terpecah menjadi banyak bagian,” jelas Dipta.

Sebagaimana diinformasikan, kuburan kuno yang diduga dari zaman megalitikum banyak terdeteksi di lima desa wilayah Sragen. Saat ini tim arkeolog tengah berupaya menggali guna mengetahui ada apa di balik kuburan kuno itu.