12 Cakades Klaten Tak Lolos di Ujian Tertulis

Tim penguji dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jogja saat mengoreksi hasil jawaban tes tertulis 24 calon kepala desa (cakades) di Gedung Wanita Klaten, Sabtu (2/3). Sebanyak 12 cakades dinyatakan lolos tes tertulis dan berhak mengikuti tahapan selanjutnya di pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Klaten, Rabu (13 - 3). (Solopos/Ponco Suseno)
03 Maret 2019 14:00 WIB Ponco Suseno Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Sebanyak 12 calon kepala desa (cakades) di lima desa di Kabupaten Bersinar dinyatakan tak lolos saat berlangsung ujian tertulis di Gedung Wanita Klaten, Sabtu (2/3/2019). Sebaliknya, 12 cakades dinyatakan lolos ujian tertulis dan berhak mengikuti pertarungan di pemilihan kepala desa (Pilkades) serentak, Rabu (13/3/2019).

Berdasarkan data yang dihimpun Solopos.com, panitia pilkades serentak di Kabupaten Bersinar menetapkan 24 cakades di lima desa harus mengikuti ujian tertulis pascadilakukan tahapan scoring beberapa waktu lalu. Sesuai Peraturan Bupati (Perbup) 41/2018 tentang Tata Cara Pengangkatan dan Pemberhentian Kades, jumlah cakades di masing-masing desa minimal dua orang dan maksimal lima orang.

Jumlah cakades yang jumlahnya melebihi dari lima orang di setiap desa, bakal dikerucutkan menjadi lima orang melalui tahapan scoring. Pemberian score ke cakades berdasarkan tiga variabel, seperti pengalaman kerja di lembaga pemerintahan, tingkat pendidikan, dan usia. Jika ada nilai terendah yang sama dan belum mengerucut ke lima orang, panitia pilkades menggelar ujian tertulis.

Sebanyak 24 cakades dari lima desa mengikuti ujian tertulis dengan menggandeng pihak ketiga, yakni Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jogja. Masing-masing desa tersebut, Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat (dua peserta diambil satu peserta); Jotangan, Kecamatan Bayat (10 peserta diambil empat peserta); Padas, Kecamatan Karanganom (lima peserta diambil tiga peserta); Ngemplak, Kecamatan Kalikotes (lima peserta diambil tiga peserta); Gedongjetis, Kecamatan Tulung (diambil satu peserta).

Tes tertulis opsional terdiri dari 100 soal dengan durasi 120 menit. Materi soal terkait UU desa, bahasa Indonesia, Pancasila, dan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Hasil tes tertulis langsug diumumkan panitia pilkades begitu ujian rampung.

“Sebelum tes tertulis berlangsung, kami sudah mengimbau ke seluruh cakades yang mengikuti tes tertulis agar siap menerima hasil apa pun yang akan diperoleh [lolos dan tidak lolos],” kata Sekretaris Panitia Pilkades Kabupaten Klaten, Mujab, saat ditemui wartawan di sela-sela ujian tertulis di Gedung Wanita Klaten, Sabtu.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermasdes) Klaten, Jaka Purwanto, mengatakan pelaksanaan ujian tertulis dilakukan secara transparan dan objektif. Diharapkan, cakades yang mengikuti ujian tertulis harus legawa menerima hasil ujian tertulis. Sehingga iklim kondusivitas di Kabupaten Bersinar tetap terjaga.

“Setelah ujian tertulis, tahapannya penetapan cakades, Senin (4/3/2019). Sejak ditetapkannya itu, 220 cakades petahana sudah memasuki masa cuti [jumlah desa yang menggelar pilkades serentak mencapai 270 desa]. Selanjutnya, seluruh cakades mengikuti deklarasi damai di GOR Gelarsena Klaten, Selasa (5/3/2019),” katanya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, cakades yang dinyatakan lolos di tahap tes tertulis, di antaranya Siti Yulaika (Ngerangan, Bayat); Hesty Wulandari, Aprilia Istanti, Agustina Dwi Setyowati, Beny Novianta (Jotangan, Bayat); Ari Dwi Nugraha, Tri Maryani, Joko Wiyono (Ngemplak, Kalikotes): Erna Wahyu Ningsih, Asih Rahayu, Galuh Prsidoha Atmaja (Padas, Karanganom); Dedy Tuhono (Gedongjetis,Tulung).

“Saat mengikuti tes tertulis, saya mempersiapkan diri dengan belajar sendiri. Saya tertarik maju sebagai cakades karena panggilan hati nurani dan dukungan dari masyarakat. Saya ingin membenahi sistem administrasi dan pemerintahan serta membangun wisata yang dapat menambah pendapan asli desa (PADes),” kata cakades asal Gedongjetis, Kecamatan Tulung, Dedy Tuhono.

Hal senada dijelaskan cakades asal Ngerangan, Kecamatan Bayat, yakni Jaka Santosa. Selama menghadapi tes tertulis, pemilik warung makan di Jakarta itu belajar secara autodidak.

“Di sini, memang harus siap menang dan siap kalah [siap menerima hasil apakah lolos atau tidak saat mengikuti tes tertulis,” katanya.