Sekolah Jadi Pusat Peradaban Awal, Seperti Apa yang Harus Dipilih?

Guru besar ITS, Imam Robandi (tengah, mengenakan jas) berfoto bersama kepala sekolah dan guru MIM Bolon, Colomadu, Karanganyar di halaman sekolah setempat, Jumat (1/3/2019)./Istimewa - Dok. MIM Bolon, Colomadu
03 Maret 2019 23:40 WIB Iskandar Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Pembangunan sekolah yang bermutu penting dilakukan karena sekolah menjadi pusat peradaban paling awal. Hal itu diungkapkan guru besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Imam Robandi di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Bolon, Colomadu, Karanganyar, Jumat (1/3/2019).

“Setelah peradaban terbentuk, perubahan ekonomi di sekitar akan terjadi,” ujar Imam yang juga motivator pendidikan dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim saat berdiskusi dengan kepala sekolah dan para guru Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Bolon, Colomadu.

Dia mencontohkan Muhammadiyah yang mencari jemaah dengan mengundang pengajian ranting sering kali tidak sukses. Kebanyakan orang mengaji di kampung diberi makanan, minuman saja belum tentu datang. Menurut dia, beda halnya dengan sekolah yang para siswanya mengaji di sekolah sejak pukul 07.00 WIB sampai pukul 15.00 WIB setiap hari. Mereka datang ke sekolah untuk mengaji dengan biaya sendiri, dan kalau anaknya salah masih disetrap.

“Ada enggak pengajian di ranting kalau terlambat disetrap? Ini yang disebut sekolah sebagai sumber peradaban. Keinginan apa saja bisa muncul dari sekolah. Kepingin pinter, kepingin berwawasan kepingin macem-macem bisa dari sekolah,” ujar Imam.

Oleh sebab itu jika ada tawaran ingin mendirikan rumah sakit atau mendirikan sekolah, dia memilih mendirikan sekolah. Kalau bisa mendirikan sekolah, menurut dia, akan bisa mendirikan rumah sakit bukan sebaliknya.

Selain itu, kata dia, sekolah itu mempunyai alumni, sedangkan rumah sakit tidak mempunyai. Jadi era horizontal itu merupakan era bertumpu pada kemampuan dan kemanfaatan teknologi.

Mengapa orang di desa kecil bisa tahu ada kaca bagus-bagus, karena ada informasi dari kemajuan teknologi. Mereka bisa melihat di Youtube, Whatsapp dan sebagainya. Karena teknologi dinilai bisa mempercepat pengetahuan. Orang-orang di kampung bisa leading dibanding yang di kota, karena latihan atau biasa menggunakan tekonologi. Sedangkan mereka yang ada di kota, tapi kalau tak pernah menggunakan teknologi itu maka tidak akan bisa. “Artinya siapa yang bisa memanfaatkan tekonologi bakal menang walaupun hidup di kampung,” kata dia.

Di sisi lain dia mengungkapkan di era horizontal ini orang tak mempermasalahkan menyekolahkan anak mereka di desa atau di kota. Asal cocok tidak masalah sehingga jarak juga dinilai bukan hal yang signifikan. "Di era horizontal ini orang tua di Bandung menyekolahkan anaknya di Jakarta bisa terjadi dan bukan masalah. Mungkin nanti hal serupa juga terjadi di MIM Bolon. Nanti kalau gedungnya sudah jadi, mereka yang sekolah bisa dari Karanganyar. Bisa juga berjarak 40 kilometer dari Bolon seperti dari Pedan, Cawas, Jatinom dan sebagainya."

Menurut dia, hal itu tak lepas dari cara marketing. Harus tahu strategi marketing. Untuk itu dia berpesan kepada para guru dan kepala sekolah MIM Bolon, meski hidup di desa, mind set yang digunakan harus era milenial.

Dia berharap di MIM Bolon bisa maju sehingga dianjurkan dibudayakan menabung sejak dari awal. Setelah uang terkumpul, nanti untuk pergi ke luar negeri seperti Singapura. “Ini bisa dijadikan tematik sehingga anak akan terkesan sampai nanti mereka besar,” kata dia.