Bawaslu Sukoharjo Sebut 3 Ancaman Serius. Apa Saja?

Sejumlah komisioner Bawaslu Sukoharjobernyayi dalam kegiatan gerakan mencegah hoaks suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) di halamanGedungPusatPromosiPotensi Daerah (GPPPD) GrahaWijaya, Minggu (3/3/2019). - R. Bony Eko Wicaksono
04 Maret 2019 11:40 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

 Solopos.com, SUKOHARJO –Tiga ancaman mendapat perhatian serius Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sukoharjo menjelang pencoblosan dalam Pemilu 2019. Ketiga ancaman nyata itu adalah isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA), politik uang atau money politics dan, berita bohong (hoaks).

Politik identitas seperti isu SARA diprediksi berseliweran. Isu SARA bakal diembuskan oleh orang tak bertanggung jawab untuk menjatuhkan pihak lain. Hal ini harus diantisipasi masyarakat agar tak mudah percaya terhadap berbagai isu yang kebenarannya dipertanyakan.

“Kami mengajak masyarakat mewujudkan pemilu damai, demokratis, dan bermartabat. Isu SARA diprediksi makin kencang menjelang pelaksanaan pemilu pada April mendatang,” kata Ketua Bawaslu Sukoharjo, Bambang Muryanto, di sela-sela gerakan mencegah hoaks, SARA, dan politik uang di halaman Gedung Pusat Promosi Potensi Daerah (GPPPD) Graha Wijaya, Minggu (3/3/2019).

Selain itu, praktik politik uang juga menjadi ancaman serius pemilu. Kasus politik uang merupakan pidana pemilu yang ditangani posko Penegakan Hukum Terpadu (Gakkumdu) Sukoharjo. Masyarakat diminta segera melaporkan kasus politik uang kepada Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam) maupun Bawaslu Sukoharjo.

Ancaman serius lainnya adalah berita hoaks yang menyerang kandidat. Akun media sosial (medsos) palsu diprediksi berseliweran selama masa kampanye pesta demokrasi terbesar di Indonesia.

Akun medsos palsu yang menyebar kampanye hitam harus diblokir lantaran kontennya melanggar perundang-undangan. “Kami selalu berkoordinasi dengan Polres Sukoharjo dan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sukoharjo untuk mengintensifkan patroli cyber. Petugas menyisir akun medsos palsu yang menyebar kampanye hitam,” ujar Bambang.