Ekskavasi Dihentikan Setelah 3 Kubur Kuno Terkuak di Sragen

Tim arkeolog dibantu warga melakukan ekskavasi dan menemukan dua buah kubur kuno di Dusun Toho, Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe, Sragen, Selasa (26/2/2019). (Solopos - Moh. Khodiq Duhri)
04 Maret 2019 20:40 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Kajian Potensi Cagar Budaya Situs Sangiran Tahap II akan ditutup pada Selasa (5/3/2019). Hingga H-1 jelang penutupan, Senin (4/3/2019), tim arkeolog dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran sudah menghentikan ekskavasi.

Dari hasil ekskavasi, mereka menemukan tiga kubur kuno yang kental dengan tradisi peninggalan zaman megalitikum. Tim arkeolog yang beranggotakan sembilan orang melakukan ekskavasi di empat lokasi di Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe, Sragen.

Dari empat lokasi ekskavasi itu, tim arkeolog dibantu warga menemukan tiga kubur kuno masing-masing dua di Dusun Toho dan satu di Dusun Grogolan. Ekskavasi di Dusun Dung Banteng terpaksa dihentikan karena tim arkeolog tidak menemukan tanda-tanda adanya kubur kuno setelah melakukan penggalian hingga kedalaman sekitar satu meter.

“Karena tidak ada hasil, ya sudah ekskavasi di Dung Banteng kami hentikan. Karena waktu penelitian masih tersisa beberapa hari, tim kami alihkan melakukan ekskavasi di dua tempat lain yakni di bagian lain Dusun Toho dan Dusun Grogolan pada Kamis [28/2/2019]. Kebetulan di Dusun Grogolan, kami menemukan makam kuno di dekat sungai dan lapangan voli,” jelas Ketua Tim Peneliti, Haris Rahma Nendra, kepada Solopos.com, Senin.

Meski tidak menemukan bekas jasad di kubur kuno itu, tim arkeolog menemukan sejumlah gerabah atau periuk. Dalam khasanah budaya masa lalu, benda-benda berharga yang ikut terkubur bersama jasad pemiliknya ini menjadi bagian dari tradisi peninggalan zaman megalitikum.

Pada zaman ini, manusia sudah berpikir lebih modern dibanding sebelumnya sehingga mampu menciptakan senjata dari bahan perunggu atau perkakas dari tanah liat. Kepala BPSMP Sangiran, M. Hidayat, memperkirakan benda-benda itu dibuat pada awal Masehi.

“Ekskavasi dihentikan hari ini [kemarin]. Besok [hari ini] tinggal penutupan. Semua temuan [gerabah atau periuk] sudah kami angkat hari ini [kemarin]. Ada berapa jenis, kami belum tahu. Soalnya belum dilakukan identifikasi dan analisis. Setelah pengumpulan data di lapangan, tahap berikutnya adalah pengolahan data dan analisis,” ucap Haris.