Pemkab Berharap Desa di Boyolali Lebih Maju di Tangan Perangkat Milenial

Ilustrasi perangkat desa. (Solopos/Dok)
04 Maret 2019 03:00 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI—Seleksi perangkat desa di Boyolali pada tahun 2018 lalu menjaring sedikitnya 600-an orang perangkat di 261 desa dengan usia di bawah 30 tahun.

Mereka adalah generasi milenial yang mau mengabdi melalui organisasi perangkat daerah terkecil, yakni desa. Pemkab Boyolali kini berharap desa-desa di Boyolali lebih berkembang dan inovatif di tangan generasi muda.

Alif Komarudin, salah satunya, belum genap berusia 24 tahun saat dirinya kali pertama bekerja sebagai salah satu perangkat desa di Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Boyolali. Saat ini dirinya adalah Kasi Pelayanan dan Kesejahteraan Masyarakat.

Alif memutuskan pulang setelah rampung menimba ilmu di S-1 Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Solo (UMS) 2015 silam. “Sebelumnya sempat mencoba bekerja di tiga Perseroan Terbatas [PT] yang berbeda namun tidak betah,” ujar Alif saat berbincang dengan Solopos.com, di Kantor Desa Banyuanyar, Kamis (28/2/2019).

Pekerjaan terakhir Alif adalah pegawai berstatus outsourcing di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipul (Dispendukcapil) Boyolali. Bermodal selebaran pengumuman, dia pun mengikuti seleksi perangkat desa tahun lalu.

Setelah diterima pada April 2017 Alif kini menjadi satu-satunya perangkat desa di Banyuanyar yang berusia di bawah 30 tahun. “Desa membutuhkan perangkat muda yang cekatan,” tutur Alif.

Bagi dirinya, desa kini bak Organisasi Perangkat Daerah (OPD) kecil, daerah yang berwenang mengelola keuangan secara langsung dari pusat lewat dana desa.

Perubahan sistem sejak dana desa dikucurkan menuntut perangkat desa banyak belajar skema-skema baru.

Di sanalah tenaga muda, termasuk Alif, memiliki peran. “Kini semua informasi desa diakses lewat email, perangkat desa lama mengenal email sebatas membuka akun email namun bagi kita email membuka banyak hal, bisa kanal media sosial maupun konten-konten daring,” kata dia.

Selain itu, perangkat desa dengan usia muda berpeluang lebih besar menangkap hal-hal baru. “Kalau yang sudah tua ada sistem baru ada perasaan ngapain belajar,” imbuh dia.

Hal serupa dialami Mahayu Gusty. Di usianya yang baru 25 tahun, dirinya sudah menjabat sebagai Sekretaris Desa Desa Glonggong, Nogosari, Boyolali.

Mahayu pulang kampung setelah dirinya lulus S-1 Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Solo (UMS) 2016 lalu. Lowongan Sekdes menariknya pulang setelah bergelut di dunia konstruksi di Kota Bengawan. 

Kini di desanya ada tiga orang perangkat berusia kurang dari 30 tahun. “Selama ini desa identik sebagai lembaga miskin, perangkat lama lebih banyak mengalami saat desa krisis biaya,” kata dia.

Media Sosial

Sebelum dana desa bergulir, desa hanya mengandalkan pendapatan pribadi yang jumlahnya kecil. Akibatnya inovasi yang lambat juga pola pikir yang menoton. Kini saat desa “kaya” dengan dana, imbuh Mahayu, pola pikir perangkat desa harus mulai berubah.

Selain itu, perangkat muda dinilai lebih peka dalam menyaring info di media sosial. “Biasanya yang lebih tua justru lebih sering share info tanpa saringan,” kata dia. Padahal pemanfaatan jaringan daring ini dirasa besar dalam pembangunan desa. “Kami mengakses informasi melalui media daring, apa saja termasuk melihat perkembangan desa lain juga melalui media daring,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermasdes) Boyolali Purwanto mengatakan tahun lalu dalam seleksi perangkat desa ada sekitar 600 perangkat di 261 desa yang berusia di bawah 30 tahun.

"Jelas standar pendidikan sudah kami naikkan dari semula minimal SMP kini menjadi SMA," kata dia.

Perangkat-perangkat muda ini dinilai Purwanto lebih cekatan dibanding perangkat desa lama. Generasi muda dinilai lebih melek teknologi digital. Apalagi kini era digital menuntut seluruh masyarakat menggunakan koneksi Internet.

Meski begitu dia tak mengkotak-kotakkan terkait penguasaan teknologi ini. Perangkat desa generasi tua pun kini dituntut menguasai teknologi. Pemkab kini berharap desa-desa di Boyolali lebih berkembang dan inovatif di tangan generasi muda.