Berobat di Yayasan Boyolali Ini, Warga Hanya Perlu Bayar Pakai Sampah

Seorang warga berkonsultasi kesehatan dengan dokter di Klinik Sampah Arsada di Kecamatan Sambi, Boyolali, Minggu (3/3/2019). (Solopos - Nadia Lutfiana Mawarni)
04 Maret 2019 10:00 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Suara lantang Agus Salim menggema di teras kantor Yayasan Arsada. Berbicara sambil memegangi mikrofon di tangan kanan, Agus memperkenalkan yayasan di Jalan Bangak-Simo Km 6,5 Sambi, Boyolali, yang memiliki Klinik Sampah Arsada Medika kepada khalayak, Minggu (3/3/2019).

Agus berkali-kali menyebutkan klinik sampah. Pengguna jalan yan melintas dan mendengar seruan Agus berhenti lantaran penasaran. Lebih dari 50 orang warga Sambi dan sekitarnya datang ke Kantor Yayasan Arsada pagi itu. Salah satunya Handayani, warga Sambi.

Dia memanfaatkan layanan kesehatan gratis di hari pertama untuk mencoba bekam dan konsultasi kesehatan. Ada tiga orang dokter yang duduk di ruang konsultasi.

Dua orang dokter laki-laki berasal dari RSUD Pandan Arang Boyolali sementara satu dokter lainnya, seorang perempuan, dari RS UNS di Pabelan, Sukoharjo. Pelayanan kesehatan memang sengaja dipisah antara laki-laki dan perempuan.

“Sangat membantu apalagi untuk warga kalangan menengah ke bawah,” ujar Handayani.

Di hari pertama, klinik ini membuka sejumlah layanan secara cuma-cuma yang meliputi cek kesehatan, konsultasi, cek gula darah, bekam, dan gurah. Tak cuma itu, dirinya juga bisa mengajak suami dan anak-anaknya memeriksakan kesehatan.

Klinik sampah masih asing terdengar di telinga perempuan berjilbab ini. Namun, berobat berbayar sampah telah menggerakkan hatinya untuk lebih teliti memilah sampah rumah tangga.

“Jika sampah kering seperti botol dan plastik bisa digunakan untuk biaya berobat, berarti kedua jenis sampah di rumah [organik dan anorganik] memang harus dipisah,” kata dia setelah mendapatkan penjelasan dari petugas.

Pengobatan berbayar sampah ini terbuka untuk seluruh anggota klinik. "Klinik ini memang menerima warga yang berobat berbayar sampah. Bagi masyarakat umum yang bukan anggota, jika mau berobat kami persilakan dengan membawa sampah,” ujar Dewan Pendiri Yayasan Arsada, Muhammad Idris.

Setelah mendapatkan pelayanan kesehatan, warga direkomendasikan menjadi anggota tetap klinik sehingga akses berobat menjadi lebih mudah. Anggota wajib mengumpulkan sampah yang akan diakoordinasi oleh tim pengepul.

Tim ini akan mengambil sampah tiap dua pekan sekali. Anggota juga berhak mendapatkan wadah khusus berupa karung sebagai tempat sampah.

Idris menambahkan rekrutmen anggota akan dibuka sepanjang tahun tanpa batasan. Harapannya gerakan ini mampu membuat masyarakat tergerak untuk tidak lagi membuang sampah di sembarang tempat.

Nantinya sampah-sampah yang terkumpul dari anggota akan dijual dan hasilnya digunakan untuk biaya operasional. Yayasan tidak membatasi besaran setoran sampah, namun para anggota wajib menyetorkan sampah-sampah mereka tiap dua pekan.

“Nantinya akan ada petugas khusus yang mengambil sampah di rumah-rumah anggota,” kata dia.

Idrus mengakui sampah itu tak cukup untuk menutup biaya operasional pengobatan. Namun tujuan yayasan yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan ini ingin mengubah pola berpikir masyarakat yang selama ini belum dapat memanfaatkan sampah.

Pada hari pertama dibuka jumlah pengunjung telah melebihi target. Ke depan, tim Yayasan Arsada berharap klinik ini bisa dimanfaatkan oleh kalangan yang lebih luas.