Petani Ganten Karanganyar Punya Strategi Supaya Tanam Cabai Tak Rugi

Bupati Karanganyar, Juliyatmono, memanen cabai di lahan belakang restoran West Garden di Desa Ganten, Kecamatan Kerjo, Jumat (1/3/2019). (Solopos - Sri Sumi Handayani)
04 Maret 2019 09:00 WIB Sri Sumi Handayani Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Kelompok Tani (Poktan) Taruna Intan Lawu, Desa Ganten, Kecamatan Kerjo, Karanganyar, beralih menanam hortikultura khususnya cabai sepanjang tahun selama lima tahun terakhir.

Saat ini sudah ada 15 petani yang menanam cabai jenis tampar. Mereka menanam di lahan seluas dua hektare. Rata-rata petani memiliki 2.000-an meter persegi.

Ketua Poktan Taruna Intan Lawu, Sutarto, menyampaikan alasan petani beralih dari sebelumnya menanam padi ke hortikultura yakni karena cabai dianggap lebih menguntungkan. Sebelumnya petani di desa tersebut menanam dengan pola padi, padi, pantun (padi) sepanjang tahun.

"Kalau punya lahan luas memang lebih memilih tanam padi. Hidup ayem, cukup, dan tenang. Kalau hortikultura itu jarang dilirik. Petani hortikultura bermain dengan harga fluktuatif. Deg-degan setiap hari. Tetapi kalau pas harga [hortikultura] tinggi, pulang bisa bawa mobil," kata Sutarto saat berbincang dengan wartawan di sela-sela acara panen cabai dan peresmian rumah makan West Garden di Desa Ganten, Kecamatan Kerjo, Jumat (1/3/2019).

Sutarto dan 14 petani lainnya belajar dari petani hortikultura lain dari luar Kabupaten Karanganyar. Petani cabai harus lebih rajin ke sawah untuk memastikan tanaman mereka subur.

Saat musim penghujan petani harus memastikan tanaman cabai tidak terendam air. Saat musim kemarau memastikan tanaman tidak kekurangan air.

"Hortikultura jarang dilirik karena perawatannya lebih ketat. Musim penghujan sulit karena curah hujan menyebabkan tanaman rentan penyakit. Mau enggak mau organik kami tambah trikoderma dan dolomit supaya PH tanah netral," ujar dia.

Sutarti mengatakan petani cabai memiliki strategi agar hasilnya tanamnya menguntungkan. Petani yang memiliki lahan lebih luas akan membagi lahan menjadi beberapa bagian.

Cabai ditanam bertahap pada setiap bagian. Dia mencontohkan menanam cabai pada bulan berbeda maka panen pun akan berbeda dan bisa terus menerus tanpa jeda.

"Harga petak satu bisa berbeda dengan petak lain. Jadi kalau pas harga jatuh, tidak semua cabai harganya jatuh. Ada celengan cabai di petak lain belum dipanen. Misalnya saat ini harga Rp6.000-Rp7.000 per kilogram. Ditunggu sepuluh hari lagi bakalan naik," tutur dia.

Sutarto dan petani cabai lain berharap pemerintah tidak hanya menggalakkan pembibitan atau budidaya cabai. Tetapi pemerintah membantu petani memasarkan. Sutarto dan petani lain di Ganten lebih memilih menjual ke pasar tradisional maupun ke sejumlah restoran karena proses pembayarannya lebih cepat.

"Hasilnya enggak seberapa tapi pasti. Kami jual ke pasar di Sragen, Solo, Karangpandan, dan pemilik restoran sekitar sini. Ada pabrik yang mau membeli tetapi standar pabrik. Kami harus kerja ekstra. Ada jaminan harga tetapi tidak semua cabai terjual karena quality control itu," jelas dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Karanganyar, Supramnaryo, menyampaikan Pemkab Karanganyar berencana merintis kerja sama dengan salah satu pabrik untuk pemasaran cabai. Hal itu agar ada kepastian harga cabai yang stabil dan ketersediaan bibit cabai unggul terus ada.

"Harga cabai kan naik turun. Kami mau mencoba kerja sama dengan salah satu pabrik. Mungkin tahun ini bisa. Jadi pabrik itu memastikan harga cabai terstandar atau ada margin," ungkap dia.