Jaringan Pipa Air Limbah 100 Km Rampung, PDAM Solo Targetkan 1.000 Rumah Tersambung

Proses penyedotan lumpur tinja oleh rekanan Perumda Air Minum Toya Wening di rumah salah satu warga Mojosongoo, Jebres, Solo, Selasa (24/7 - 2018) siang. (Solopos/Irawan Sapto Adhi)
05 Maret 2019 05:00 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Perusahaan Umum Daerah Air Minum Toya Wening (PDAM) Solo telah merampungkan pemasangan pipa air limbah sepanjang 100 kilometer (km) di Solo.

PDAM menargetkan 1.000 rumah tersambung jaringan pipa air limbah yang rampung dibangun tahun lalu itu. Jaringan pipa tersebut merupakan bantuan dari pemerintah pusat melalui Satker Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman (PPLP) Provinsi Jawa Tengah.

Direktur Teknik (Dirtek) PDAM Solo, Tri Atmojo Sukomulyo, mengatakan pembangunan jaringan pipa sepanjang 100 km itu terdiri atas pipa sekunder berdiameter 200-300-400 milimeter, kemudian pipa kolektif dengan diameter 150 milimeter.

“Jaringan pipa air limbah di wilayah utara dipasang mulai dari utara Kali Anyar, kemudian wilayah tengah antara Kali Anyar hingga Jl. Slamet Riyadi, dan wilayah selatannya mulai dari Jl. Slamet Riyadi sampai selatan. Panjangnya 100 km,” kata dia saat berbincang dengan wartawan di Balai Kota Solo, pekan lalu.

Seribu sambungan rumah itu tak hanya menargetkan rumah tangga biasa, melainkan masyarakat niaga hingga hotel dan restoran yang luasan bangunannya lebih dari 100 meter persegi. Selain itu juga menyasar masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang tidak memiliki septic tank.

“Persentase pelanggan untuk rumah tangga sekarang masih 4%. Tarif pada perniagaan akan menyubsidi MBR, meski sudah mencakup full house recovery,” ungkapnya.

Sambungan rumah ke jaringan pipa itu, sambung Tri Atmojo, melalui berbagai program, di antaranya reguler ke PDAM atau melalui program Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (Disperkim) Kota Solo bersama Program Hibah Australia-Indonesia untuk Pembangunan Sanitasi (SAIIG).

SAIIG (Australia-Indonesia Infrastructure Grants for Sanitation) melakukan survei kepada 1.000 rumah tangga terpilih untuk masuk base line. Jika memenuhi syarat, konsultan SAIIG akan menyetujui proses penyambungan ke jaringan pipa yang dilakukan tahun ini.

“Setelah sambungan terpasang, akan ada verifikasi lagi apakah sudah berfungsi dengan baik dan benar? Bermasalah atau tidak? Jika kemarin (saat pemasangan) ada dasar rumah yang dijebol dan rusak, akan dikembalikan ke kondisi semula,” ungkapnya.

Setelah rampung seluruhnya, SAIIG akan menyerahkan pengelolaan dan aset itu kepada Pemkot yang lantas dihibahkan ke PDAM. Langkah selanjutnya, PDAM memasukkan sebanyak 1.000 rumah tangga itu sebagai pelanggan.

Lalu, PDAM akan mengatur besaran tarif layanan dengan perincian rumah tangga termurah senilai Rp8.500 per bulan dan perniagaan termurah Rp45.000 per bulan. Tarif itu tergantung golongan, di mana untuk tempat ibadah bakal digratiskan. “Hotel dan restoran tentu tarifnya lebih tinggi,” kata Tri Atmojo.

Secara teknis, pemasangan dari rumah tangga ke jaringan tidak melalui septic tank terlebih dahulu, melainkan langsung memotong dari leher angsa kloset. Septic tank yang tak lagi berfungsi akan ditutup setelah sebelumnya dikuras.

“Seluruh limbah tersebut akan masuk Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja [IPLT] terlebih dahulu, sebelum masuk badan air. Air limbah yang dibuang harus sesuai standar baku yang ditetapkan,” kata dia.

Direktur Utama PDAM Solo, Maryanto, mengatakan program tersebut bertujuan mendukung program nasional 100% sanitasi dasar. Kendati pembangunan jaringan sudah selesai, satuan kerja terkait masih merampungkan komplain masyarakat terkait infrastruktur yang rusak akibat bekas galian.