Wow! Ketua Paguyuban Difabel Sehati Sukoharjo Raih Penghargaan dari PBB

Ketua Paguyuban Difabel Sehati, Edy Supriyanto menunjukkan sertifikat penghargaan Innovative Practise 2019 dari Zero Project di kantor setempat, Rabu (27/2 - 2019). (Solopos/Bony Eko Wicaksono)
05 Maret 2019 11:00 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Beberapa penyandang disabilitas duduk berjejer di Kantor Sekretariat Paguyuban Difabel Sehati di Kelurahan Gayam, Kecamatan Sukoharjo. Mereka terlihat sibuk merampungkan berbagai tugas dan pekerjaan. Ruang berukuran lima meter kali delapan meter penuh dengan perlatan kantor seperti meja dan kursi serta kerajinan tangan karya para penyandang disabilitas.

Salah satu penyandang disabilitas yang duduk paling depan adalah Edy Supriyanto. Saat Solopos mengunjungi kantor itu, Edy tengah membuka laptop. Edy baru saja menyabet penghargaan Innovative Practise 2019 dari Zero Project yang merupakan bagian dari Komite Hak Penyandang Disabilitas PBB atau United Nations Convention on the Rights of Persons with Disabilities (UN CRPD). Edy diberi kesempatan untuk mengikuti kegiatan yang erat hubungannya dengan penanganan disabilitas dunia di Gedung PBB di Wina, Austria pada 20 Februari-22 Februari.

Edy tak berangkat sendirian. Warga Desa Nglorog, Kecamatan Tawangsari ini ditemani penyandang disabilitas lainnya, Joko Sudarsono. Mereka mewakili Indonesia dan bergabung dengan perwakilan dari 42 negara lainnya dalam kegiatan itu.

Edy dan Joko berhasil meraih penghargaan itu setelah mengirim dokumen yang berisi foto dan gambar video kepada panitia Innovative Practise. “Foto dan gambar video itu menggambarkan akses pelayanan kesehatan dan pendidikan di sanggar inklusi di Sukoharjo. Konsep sanggar inklusi yang melibatkan orangtua belum ada di daerah lainnya,” kata Edy yang menjabat sebagai Ketua Paguyuban Difabel Sehati Sukoharjo, saat berbincang dengan Espos, Rabu (27/2/2019).

Di Sukoharjo, ada 13 sanggar inklusi yang tersebar di 12 kecamatan. Sementara jumlah anak penyandang disabilitas di semua sanggar inklusi ada 224 orang. Awalnya, hanya ada satu sanggar inklusi yang didirikan Paguyuban Sehati pada 2013. Kala itu, Paguyuban Sehati menggandeng para sukarelawan terapis dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Cahaya Mentari, Kartasura.

Para sukarelawan terapis itu mengedukasi para orangtua mengenai cara mendidik dan mengasuh anak penyandang disabilitas. “Selama ini, banyak orangtua yang mengucurkan dana untuk menyembuhkan anak penyandang disabilitas. Rata-rata orang tua bingung bagaimana cara mendidik dan mengasuh anak penyandang disabilitas,” ujar dia.

Pola pengasuhan anak penyandang disabilitas berbeda dengan anak normal. Guru atau orang tua harus menyesuaikan keinginan dan kemauan anak penyandang disabilitas. Selain itu, ada alat peraga edukatif yang digunakan sebagai media pembelajaran di masing-masing sanggar inklusi.

Lambat laun, jumlah sanggar inklusi bertambah di setiap kecamatan. “Para sukarelawan berasal dari orang tua, anggota karang taruna atau masyarakat. Ini sesuai konsep rehabilitasi berbasis masyarakat (RBM) penyandang disabilitas yakni menjaga dan merehabilitasi potensi dan kemampuan yang dimiliki penyandang disabilitas,” tutur dia.

Konsep sanggar inklusi lainnya adalah membangun kepedulian para donatur agar memberikan kontribusinya. Perusahaan, organisasi atau masyarakat tergerak hatinya untuk menyumbangkan dana yang digunakan untuk membiayai operasional kegiatan sanggar inklusi.

Misalnya, sanggar inklusi di wilayah Kecamatan Polokarto yang selalu mendapat sokongan dana dari para donatur setiap bulan. Beberapa perusahaan juga memberikan dana program corporate social responsibility (CSR) untuk sanggar inklusi. “Konsep sanggar inklusi bisa diimplementasikan di sekolah formal. Pola pembelajarannya tak jauh beda justru lebih gampang lantaran tidak ada anak berkebutuhan khusus,” timpal Joko Sudarsono.