Inilah Sejarah Nama Perempatan Ponten di Wonogiri

Pompa air manual terlihat di salah satu sudut perempatan Ponten, Lingkungan Gerdu, Kelurahan Giripurwo, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri, Jumat (1/3/2019). Dahulu, sumur itu lazim disebut ponten yang hingga kini perempatan itu dinamai Perempatan Ponten. - Cahyadi Kurniawan
05 Maret 2019 12:00 WIB Cahyadi Kurniawan Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI--Orang Wonogiri atau orang yang pernah melintas di Wonogiri bagian kota pasti tak asing dengan nama perempatan Ponten. Perempatan ini berada sekitar 50 meter selatan taman Plintheng Semar. Persimpangan ini menjadi jalur utama kendaraan masuk dan keluar dari kawasan Kota Sukses.

Jika dicermati, nama Ponten tak ditemui sebagai nama dusun atau lingkungan di sekitar kawasan itu. Ponten sendiri artinya kamar mandi umum. Istilah ponten bisa ditemui di Terminal Purabaya, Surabaya, untuk menjelaskan makna toilet. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, lema \ponten\ memiliki arti pancaran air.

Jika dilihat dari arti kata itu, Ponten di kawasan itu memiliki kaitan erat dengan keberadaan sebuah sumur yang berada di sudut salah satu simpang. Sumur itu berada di belakang pos polisi. Tepatnya di pojokan bagian luar kantor Bank Jateng.

Di pojokan itu terdapat sebuah pompa air manual yang karatan. Pompa itu masih berfungsi kendati untuk menggunakannya butuh air pancingan terlebih dahulu. Sebab, klep pompa itu sudah aus dan belum ada suku cadangnya. “Kalau pompa ini rusak, saya yang memperbaiki. Pompa ini juga kadang masih saya pakai untuk ambil air,” kata Gunardi, 62,warga Lingkungan Gerdu RT 001/RW 006, Kelurahan Giripurwo, Kecamatan Wonogiri, saat berbincang dengan Solopos.com di rumahnya, Jumat (1/3/2019).

Gunardi menceritakan kawasan itu awalnya bukanlah perempatan melainkan pertigaan. Arus lalu lintasnya adalah dari arah Taman Plintheng ke selatan dan dari sumur itu ke arah jembatan Jurang Gempal. Di tengah-tengah pertigaan itu ada sebuah taman berbentuk segitia dengan kolam berisi air mancur. Taman itu kadang sering dipakai sebagai tempat bermain anak-anak di kawasan itu termasuk Gunardi salah satunya.

Di mulut pertigaan itu ada sebuah rumah milik Slamet Sinder. Istilah sinder sendiri merupakan panggilan Slamet yang bekerja di lembaga mirip DPU zaman Belanda. Slamet juga membuka warung soto yang cukup tenar pada zamannya.

Di rumah Slamet itulah sumur itu dibangun. Dulunya, sumur itu merupakan sumur gali biasa. Untuk mengambil airnya, warga menggunakan timba. Air sumur itu memang lazim dipakai warga dari kampung-kampung di Kelurahan Giripurwo dan sekitarnya. Sebab, zaman itu belum ada layanan PDAM. Sumur itu kian ramai yang menggunakan saat puncak musim kemarau. “Saat semua sumur warga kering, sumur ini [Ponten] enggak. Jadi banyak warga antre ke sini untuk mendapatkan air. Sekarang mungkin orang mulai jarang pakai sumur itu karena sudah ada layanan PDAM,” terang Gunardi.

Kemudian, pada 1980-an, ada proyek pembukaan jalan yang mengubungkan terminal di Pasar Kota Wonogiri dengan pertigaan dekat sumur itu. Ada enam keluarga direlokasi atas proyek jalan itu. Jalan tembus itulah yang mengubah dari pertigaan menjadi perempatan. Rumah Slamet juga termasuk ikut direlokasi lalu pindah ke kampung sebelah. “Waktu itu ada rencana sumur ini mau ditutup. Tapi warga menolak. Sebagai jalan tengah, sumur itu kini dipasangi pompa air manual. Sampai hari posisinya ya masih sama,” urai Gunardi.