Cakades Klaten Janji Tak Melakukan Politik Uang

Lima cakades Candirejo, Kecamatan Ngawen, Klaten, membuka nomor urut hasil pengundian di Gedung Serbaguna Candirejo, Senin (4/3/2019). (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
06 Maret 2019 10:10 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Sejumlah calon kepala desa (cakades) berjanji tak menggunakan politik uang demi memenangkan kontestasi Pilkades serentak 2019 yang digelar Rabu (13/3/2019). Mereka mengandalkan sosialisasi serta menggerakkan sukarelawan.

Cakades asal Desa Glagah, Kecamatan Jatinom, Sumedi Waluyo, mengatakan ia mengandalkan capaian kinerja yang sudah dilakukan selama menjabat sebagai Kades Glagah satu periode. “Di Glagah ada dua cakades. Kalau saya yang jelas hanya bermodalkan apa yang sudah dicapai selama satu periode. Biar masyarakat yang menilai. Saya memilih no money politics,” kata dia saat ditemui Solopos.com di GOR Gelarsena, Selasa (5/3/2019).

Sumedi mengatakan untuk meraih simpati warga ia kerap mendatangi pertemuan di setiap RT untuk sosialisasi. Kegiatan itu didukung para pendukungnya yang membuat berbagai atribut serta sosialisasi melalui media sosial. “Foto dan slogan buatan pendukung. Mereka sendiri yang sukarela membuat itu dengan dana patungan. Di media sosial mereka juga yang menyebarkan melalui grup WA, Instagram, atau Facebook,” katanya.

Cakades asal Desa Soropaten, Kecamatan Karanganom, Rumiyati, mengklaim tak membuat tim sukses atau kader guna meraih suara warga bersaing dengan empat cakades lainnya. “Yang ada sukarelawan dan mereka membentuk sendiri. Bedanya itu kalau kader identik dengan target suara. Sementara, sukarelawan tidak ada kewajiban untuk meraih target suara hanya membantu menyosialisasikan,” kata wanita cakades petahana tersebut.

Rumiyati mengatakan berbagai atribut yang dipasang berasal dari para sukarelawan. Mereka menggunakan dana pribadi dan membuat berbagai spanduk atau baliho bergambar foto dirinya.

Rumiyati juga berjanji tak melakukan politik uang demi mendapatkan suara warga Soropaten. “Tidak ada money politics, tidak punya kader atau tim sukses, dan tidak mengeluarkan uang seperak pun. Sebenarnya kami sudah menang dalam hal proses,” tutur dia.

Cakades asal Desa Candirejo, Kecamatan Ngawen, Suparno, mengatakan untuk kali ketiga ia kembali maju menjadi cakades setelah dua kali tak terpilih saat digelar Pilkades di Candirejo. Pada pilkades kali ini, Suparno mengaku mengubah strategi yang ia lakukan. “Saya buat santai saja. Dulu saya sering mengumpulkan kader. Saat ini, saya ubah strateginya. Lebih memilih door to door dibantu pergerakan kader,” kata dia.

Ia juga mengklaim pada perhelatan Pilkades mengeluarkan dana seminimal mungkin. Ia juga berjanji tak melakukan politik uang. “Sirikan saya itu money politics karena kasihan warganya,” tutur PNS di kantor Kecamatan Ngawen tersebut.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Klaten, Ronny Roekmito, mengatakan sudah mewanti-wanti panitia pilkades di masing-masing desa untuk bertindakan tegas. Hal itu termasuk ketika ada temuan politik uang.

“Kami sudah mengimbau bahwa ketika ada temuan politik uang itu ranahnya pidana. Jadi, pelakunya langsung berhadapan dengan penyidik dari aparat penegak hukum,” jelas dia.