Perusahaan di Sukoharjo Ini Tiap Hari Tangani 11 Ton Limbah Berbahaya-Beracun

Ribuan jarum suntik bekas ditemukan di bekas TPS Jurug, Jebres, Solo, Selasa (5/3/2019). (Solopos - Nicolous Irawan)
07 Maret 2019 20:15 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- PT Arah Enviromental Indonesia (AEI) yang bergerak di bidang penanganan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) prihatin dengan ulah orang yang membuang limbah medis sembarangan di Solo dalam beberapa waktu terakhir.

PT AEI menangani 11 ton limbah B3 setiap harinya. Limbah yang kebanyakan dari rumah sakit atau pusat pelayanan kesehatan dan klinik ini harus dimusnahkan dengan cara dibakar.

Keprihatinan itu disampaikan Plant Manager PT Arah Enviromental Indonesia (AEI), Angga Megantoro, terkait kasus pembuangan limbah medis berupa jarum suntik di sekitar bekas tempat pembuangan sampah (TPS) Jurug, Jebres, Solo, beberapa hari lalu.

“Pengelolaan limbah medis seperti jarum suntik dimusnahkan dengan cara dibakar sampai menjadi abu. Tidak boleh dibuang sembarangan lantaran sangat membahayakan masyarakat,” kata dia kepada Solopos.com, Kamis (7/3/2019).

Menurut Angga, limbah medis masuk kategori limbah infeksius yang sangat berbahaya lantaran terkontaminasi virus, bakteri, atau racun. Karena itu, pengelolaan limbah medis harus dilakukan secara komprehensif mulai dari perencanaan hingga proses pembakaran.

Selama ini, PT AEI menerapkan standard operating procedure (SOP) pengelolaan limbah B3 yang merujuk pada regulasi seperti UU No. 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Peraturan Pemerintah No. 101/2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.

“Kami selaku pihak ketiga selalu mengedukasi perusahaan maupun rumah sakit ihwal pengelolaan limbah. Perusahaan atau rumah sakit juga bisa mengajukan permintaan pelatihan pengelolaan limbah,” ujar dia.

PT AEI mengelola limbah B3 sekitar 11 ton setiap hari. Limbah itu berasal dari 2.000 klien yang bergerak di berbagai bidang di Jawa. Tak hanya rumah sakit atau laboratorium klinik, limbah itu berasal dari gedung perkantoran dan hotel.