Ratusan Hektare Sawah Sukoharjo Terancam Puso Gara-Gara Banjir

Banjir di Mojolaban, Sukoharjo, Kamis (7/3 - 2019). (Solopos/Bony Eko Wicaksono)
08 Maret 2019 17:15 WIB Indah Septiyaning Wardhani Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Ratusan hektare tanaman padi di Sukoharjo terancam puso setelah terendam banjir akibat hujan deras di Kabupaten Makmur, Rabu-Kamis (6-7/3/2019). 

Kepala Desa (Kades) Grogol, Kecamatan Weru, Heri Putut, mengatakan hujan deras mengakibatkan tanggul Sungai Situri  jebol dan berdampak pada 164 hektare persawahan terendam air. Namun kini air mulai surut meski masih merendam lahan pertanian warga.

"Rata-rata padi mulai menguning, kami khawatir rendaman air bisa menyebabkan tanaman padi puso," katanya. 

Sebagai penanganan dan penanggulangan sementara, pemerintah desa bersama TNI/Polri dan Karang Taruna serta masyarakat memasang sandbag atau karung-karung berisi pasir guna menutup tanggul yang jebol. Langkah ini sekaligus sebagai upaya mengantisipasi banjir bandang akibat jebolnya tanggul.  

Jebolnya tanggul terjadi karena intensitas hujan yang cukup tinggi mengguyur wilayahnya sejak Rabu sore. Hal ini mengakibatkan elevasi sungai meningkat dan tanggul yang memang kondisinya kritis tak kuat menahan derasnya aliran air tersebut.

"Kami berharap ada langkah konkret dari pihak terkait agar menormalkan Sungai Situri," pintanya. 

Kondisi tanggul Sungai Situri kritis dan beberapa kali jebol. Dia khawatir tanggul jebol hingga menyebabkan banjir bandang. Tak hanya merusak tanaman padi petani, namun merendam rumah-rumah penduduk di aliran Sungai Situri. 

Saat ini perbaikan masih sebatas dikerjakan secara darurat atau sementara, namun dia berharap tanggul bisa diperbaiki secara permanen agar puluhan hektare hamparan padi tak terendam air.

Menurutnya, hampir setiap musim hujan, sawah-sawah di sana selalu terendam air akibat tanggul jebol  sehingga petani mengalami puso atau gagal panen.  "Harapan pemerintah desa, warga masyarakat dan para petani di sini, tanggul bisa diperbaiki permanen. Karena tanggul sudah tidak layak, jebol sini diperbaiki di sana jebol lagi,” tuturnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo Netty Harjianti menyebutkan ada 379 hektare lahan pertanian yang terendam banjir. Namun demikian dia belum menerima laporan adanya lahan pertanian yang puso atau gagal panen. 

"Memang ada dampak dari banjir kemarin [Kamis, 7/3/2019]. Namun, sampai saat ini belum ada temuan puso," katanya. 

Dia terus memantau kondisi lahan pertanian setelah terendam air. Pemkab menyiapkan bantuan benih bagi para petani. Permohonan bantuan benih tersebut harus diajukan ke Dinas Pertanian dan Perikanan. Dia mengimbau kepada para petani saat musim penghujan. 

Selain bantuan benih, Dinas Pertanian dan Perikanan juga menyiapkan alat untuk memompa banjir jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk mengurangi air. petani melalui kelompok tani hanya perlu melaporkan kondisi darurat yang terjadi saat mengajukan peminjaman atau bantuan. 

“Ada alat yang disimpan kantor dinas, ada juga yang dititipkan di Makodim,” pungkasnya.

Kepala Pelaksana BPBD Sukoharjo Sri Maryanto mengatakan banjir di beberapa wilayah terpantau surut. Dia mengatakan prediksi kerugian akibat bencana yang ada di Sukoharjo saat ini sekitar Rp300 juta. Kerugian tersebut akibat banjir dan longsor di berbagai wilayah di Sukoharjo.