Tanjakan Maut Di Jembatan Bunder Sragen

Sejumlah pelajar melintasi garis polisi di jalan menuju Jembatan Bunder, perbatasan Desa Kedungwaduk, Kecamatan Karangmalang, dan Desa Gebang, Kecamatan Masaran, Sragen, Jumat (8/3/2019). (Solopos - Moh. Khodiq Duhri)
08 Maret 2019 16:35 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Kamis (7/3/2019) jelang waktu Isa, Tarmin, 52, bersiap menyantap mi rebus kesukaannya. Sambil menunggu mi itu tak lagi panas, warga Dusun Bunder, RT 014, Desa Kedungwaduk, Kecamatan Karangmalang, Sragen, itu melihat mobil pikap Suzuki Carry melewati depan rumahnya.

Mobil pikap itu menarik genset dengan ukuran hampir separuh dari ukuran Suzuki Carry itu. “Apa ya kuat nanti mobil itu lewat jalan menanjak setelah Jembatan Bunder,” guman Tarmin kala itu.

Mi sudah berada di sendok, belum sempat Tarmin menyantapnya, terdengar suara gaduh yang membuat istrinya panik bukan kepalang. “Suaranya keras sekali. Kami yakin itu suara mobil yang jatuh ke sungai. Istri saya terus menerus menyebut nama Allah sambil berteriak-teriak minta tolong kepada warga sekitar,” ujar Tarmin saat ditemui Solopos.com di lokasi, Jumat (8/3/2019).

Dalam kondisi gelap, warga sekitar berusaha mendekati Jembatan Bunder. Awalnya mereka hanya menemukan genset yang terdampar di tebing. Warga sempat mengira yang jatuh hanya gensetnya, sementara mobil pikap selamat.

Namun, dugaan warga salah. Tak lama berselang, warga melihat Koko Subandiyanto, 43, sopir mobil pikap warga Pandak, RT 06, Desa Krikilan, Masaran, Sragen, tertatih-tatih meminta tolong.

“Kami lalu menolong sopir itu. Katanya, dia sempat membawa anaknya keluar dari mobil yang tenggelam. Namun, anaknya itu terlepas dan hanyut setelah gagal berpegangan pada batu. Kebetulan saat itu arus sungai cukup deras,” papar Tarmin.

Yitno, 45, warga sekitar, sempat melihat tubuh seorang anak berada di kedung yang berjarak sekitar 50 meter dari lokasi kejadian. Saat berusaha menolongnya, Yitno malah terpeleset dan jatuh.

Tak lama kemudian, Yitno melihat tubuh anak yang belakangan diketahui bernama Rofi Prasetyo Wibowo, 11, anak dari Koko, sudah tenggelam. Tim gabungan dari BPBD Sragen, PMI Sragen, dan sukarelawan dari sejumlah tim SAR kemudian berdatangan untuk melakukan pencarian.

Namun, pencarian berdasarkan pandangan mata pada Kamis malam itu belum membuahkan hasil. Pencarian kemudian dilanjutkan pada Jumat pagi. Tim mencari keberadaan Rofi hingga sejauh tujuh kilometer dari lokasi jatuhnya mobil pikap.

Mereka juga menyelami kedung dengan kedalaman sekitar tiga meter. Penyelaman kedung yang dimulai pada pukul 08.00 WIB itu akhirnya membuahkan hasil. Tepat pada pukul 10.04 WIB, tim gabungan menemukan Rofi terdampar di dasar kedung dalam kondisi kaku.

“Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di kedalaman sekitar tiga meter. Selanjutnya, korban kami bawa ke RSUD dr. Soehadi Prijonegoro sebelum diserahkan kepada keluarga korban,” jelas Kepala Pelaksana BPBD Sragen, Sugeng Priyono, seusai membubarkan tim evakuasi.

Jembatan Bunder berada di perbatasan Desa Kedungwaduk, Kecamatan Karangmalang, dan Desa Gebang, Kecamatan Masaran. Dari arah Kedungwaduk, warga akan menuruni jalan curam sebelum sampai jembatan selebar tiga meter dan sepanjang sekitar 20 meter.

Setelah melewati jembatan, yang masuk wilayah Gebang, Masaran, pengguna jalan akan langsung berhadapan dengan tanjakan yang menikung cukup tajam. Di tanjakan inilah, mobil yang disopiri Koko membawa anaknya dan genset itu tak kuat menanjak kemudian jatuh ke sungai.

Dua jalan menanjak sebelum dan setelah jembatan itu biasanya memang menjadi momok menakutkan bagi pengguna jalan. Kebanyakan kendaraan yang terperosok ke Kali Mungkung itu karena tidak kuat melewati jalan menanjak itu.

Bagian dasar Kali Mungkung dipenuhi bebatuan sehingga membuat kendaraan yang jatuh dipastikan ringsek. Apalagi kendaraan itu jatuh dari ketinggian sekitar tujuh meter.

Bila debit air tinggi, kendaraan yang terperosok ke sungai itu bisa tidak terlihat wujudnya. Sama halnya dengan mobil pikap Suzuki Carry yang dikemudikan Koko.

Bagi warga sekitar, Jembatan Bunder menyimpan banyak cerita yang tidak mengenakkan. Bisa dibilang, Jembatan Bunder merupakan neraka bagi pengguna jalan luar daerah, khususnya yang tidak hafal dengan karakteristik jalan.

Jalan setelah jembatan menuju Pasar Pucuk itu menanjak dan menikung cukup tajam. Dalam tiga tahun terakhir, setidaknya sudah ada tiga mobil yang terperosok ke dalam Sungai Mungkung setelah gagal melewati jalan menanjak tersebut.

“Sebelum kejadian ini, sudah ada dua truk yang terperosok ke sungai. Yang satu kejadian sudah hampir dua tahun, yang satu sekitar tiga tahun. Sopir dua truk itu meninggal dunia beberapa hari kemudian. Kebetulan dua sopir itu bukan asli warga sini,” terang Tarmin.

Jauh sebelum tiga kejadian nahas itu, jalan menanjak setelah Jembatan Bunder juga sudah memakan korban. Saat masih berupa jembatan sesek, seorang warga Bunder sempat terperosok ke sungai bersama sepeda anginnya.

Beruntung ia masih selamat dari maut. Setelah jembatan dibangun pada 1985, terdapat dua warga pengendara sepeda angin yang terjatuh ke sungai di waktu berbeda.

“Yang satu warga Kedungringin [Desa Kedungwaduk, Kecamatan Karangmalang]. Yang satu warga Jenggrik [Kecamatan Kedawung]. Mereka semua meninggal dunia setelah jatuh ke sungai karena tidak kuat melewati jalan menanjak,” paparnya.