Sumur Jalatunda, Dipercaya Membawa Berkah bagi Warga Juwangi Boyolali

Sebuah bangunan berbentuk joglo dengan aksara Jawa di dindingnya menjadi akses masuk ke Kawasan Sumur Jalatunda di Desa/Kecamatan Juwangi, Boyolali. Legenda penamaan Jalatunda disematkan Paku Buwono VI. Foto diambil Selasa (5/3/2019). (Solopos - Nadia Lutfiana Mawarni)
08 Maret 2019 09:00 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI—Sebuah sumur tersembunyi di balik pagar sebuah bangunan di tepi jalan di Desa Juwangi, Kecamatan Juwangi, Boyolali.

Untuk memasuki kawasan sumur tersebut ada sebuah joglo berukuran sekitar 8 meter x 8 meter. Joglo itu direvitalisasi sekitar tiga tahun lalu.

Di dindingnya yang menghadap ke jalan terukir sebuah petuah yang ditulis dalam aksara jawa. Memayu Hayuning Sesami jika diaksarakan dalam tulisan latin yang berarti berbuat baik untuk sesama. Falsafah itu melekat pada kehidupan masyarakat Jawa.

Sumur Jalatunda menjadi sumber air paling mahsyur di Juwangi. Di kompleks yang sama juga terdapat sendang yang jamak digunakan untuk mandi dan mengambil air.

Sebelum sanitasi dan akses air bersih berkembang layaknya kini Sumur Jalatunda menjadi salah satu sumber air andalan warga.

“Dulu warga luar daerah juga berbondong-bondong datang, kabarnya airnya ampuh untuk menyembuhkan penyakit dan membawa keberuntungan,” terang Ning, 42, salah satu warga Juwangi saat berbincang dengan Solopos.com, di kawasan tersebut, Selasa (5/4/2019).

Nama Jalatunda tak terdengar asing di telinga masyarakat Jawa. Sumur dengan nama serupa juga dapat dijumpai di Banjarnegara, Jawa Tengah dan Cirebon Jawa Barat.

Meski demikian ada satu kisah unik yang melatarbelakangi penamaan Sumur Jalatunda di Juwangi, Boyolali.

Kepala Desa Juwangi, Yagus Juhadi, menuturkan dulunya sumber air tersebut tak memiliki nama. Namun suatu hari Raja Paku Buwono (PB) VI yang mengembara dari Keraton Kasunanan Solo singgah sejenak ke sumber air tersebut untuk beristirahat.

Dari sana PB VI menyebut Jalatunda yang kemudian berkembang sebagai nama sumur tersebut hingga kini.

Mitos

“Tidak ada angka tahun yang jelas terkait penamaannya, namun legenda yang berkembang dulu raja-raja Jawa bagian selatan [Solo] sering melintas di Juwangi ketika pergi ke Pantai Utara [Pantura],” ungkap Yagus.

Yagus memperkirakan penamaan itu dilakukan sebelum masa pendudukan Belanda di Jawa. Namun tidak diketahui kapan mitos khasiat air sumur berkembang. “Setelah atau sebelum penamaan juga tidak tahu,” imbuh dia.

Kini sejumlah warga yang mempercayai khasiat air sumur kerap memadati Jalatunda. “Mereka mandi atau mengambil air minum dari sana,” kata Ning.