Indahnya Saling Menjaga dan Toleransi Umat Beragama di Kampung Wisata Karanganyar

Warga berjaga di pos kamling Dukuh Jlono, Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, Kamis (7/3/2019). Warga pemeluk agama Kristen dan Islam tersebut menjaga kampung supaya tetap aman ketika sebagian warga yang beragama Hindu beribadah Nyepi. - Wahyu Prakoso
08 Maret 2019 16:20 WIB Wahyu Prakoso Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Pagi itu rintik hujan membasahi wilayah Karanganyar. Hawa dingin menusuk kulit Espos saat tiba di Dukuh Jlono, Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, pukul 09.00 WIB, Kamis (7/3/2019).

Langkah Solopos.com terhenti ketika delapan laki-laki menghentikan laju kendaraan. Mereka warga Jlono yang sedang berjaga di kampungnya. Ada dua akses jalan di Jlono dan masing-masing jalan terdapat pos kamling.

Dukuh Jlono terdiri dari 56 keluarga dan memiliki jumlah penduduk lebih dari 200 jiwa. Warga Jlono memeluk agama Islam, Kristen, dan Hindu.

Setiap tahun baru saka, pemeluk Islam dan Kristen menghormati pemeluk Agama Hindu dengan berjaga di kampung tersebut.

Suasana dukuh tampak sepi dari hari biasanya yang mayoritas warganya beraktivitas sebagai petani dan pengelola wisata Kali Pucung. Sepanjang dusun tidak ada aktivitas apa pun. Hanya terdengar kicauan burung dan embusan angin.

“Mulai pukul 06.00 WIB kami berjaga bersama hingga besok pukul 06.00 WIB. Kebiasaan dari dulu saling menghormati. Kami berusaha mengurangi suara berisik supaya tidak menggangu saudara kami yang beribadah Nyepi dan rumah warga aman,”kata salah satu warga, Hariyono, kepada Solopos.com saat ditemui di pos kamling.

Laki-laki 63 tahun tersebut mengatakan sengaja menghentikan aktivitas bertaninya untuk menjaga kampung. Disebabkan jalan di dukuhnya sebagai kampung wisata banyak pengunjung wisata Kali Pucung yang melewati jalan kampung tersebut.

Ada sepeda motor dan satu mobil yang diparkir di pos ronda. Solopos.com diberikan izin berkeliling kampung dengan berjalan kaki ditemani empat warga sambil memantau setiap rumah warga.

Ketua karang taruna Jlono, Agus Suparno, menunjukkan rumah yang penghuninya melaksanakan Nyepi. Rumah tersebut memiliki dua pintu depan. Satu pintu tertutup rapat. Satu pintu lainnya terbuka dan lampu putih menyala terang.

“Jumlah anggota keluarga tersebut ada lima. Orang tua mereka Hindu sedang meditasi. Anak mereka memeluk agama Islam tetapi saling menghormati. Lampu dinyalakan karena ada anak balita supaya tidak takut,”terangnya kepada Solopos.com.

Laki-laki 36 tahun tersebut menjelaskan, memiliki jumlah anggota keluarga delapan orang. Dia mengaku, orang tuanya memeluk Agama Hindu. Sedangkan kakak perempuan, kakak ipar, dan keponakannya memeluk Agama Kristen. Dia menjelaskan, memeluk Islam bersama Istrinya sejak sekolah di tingkat SMP.

“Di sini biasa satu rumah berbeda agama. Orang tua kami membebaskan kami memilih,” ujar Agus kepada Solopos.com.

Berjalan sejauh 200 meter ke arah timur, Solopos.com sampai di Pura Jonggol Shanti Loka. Dari luar, tampak ventilasi pura dipasangi terpal warna hitam. Solopos.com coba membuka pagar warna hitam yang tertutup.

Sebanyak 18 warga sedang bermeditasi di pura tersebut. Tidak ada suara apa pun, semua diam, hanya terdengar embusan angin dan rintik hujan.

Selang lima menit, seorang warga menuju toilet. Solopos.com turun dari pura dan singgah di rumah Ketua RW Jlono yang terletak di barat pura tersebut.

Ketua RW 015, Cipto Suwarso, mengatakan kegiatan kemasyarakatan di kampungnya bisa dilakukan bersama-sama walaupun berbeda agama. Menurut dia, setiap warga menghormati dan menjaga setiap hari raya dari semua agama yang dianut warga.

“Sebanyak 30 persen warga kami memeluk agama Hindu, sisanya Islam dan Kristen. Saat Dharma Santi, semua warga terlibat. Juga ketika perayaan Natal dan Idul Fitri,”katanya kepada Solopos.com.

Cipto mengatakan, sejak dulu Dukuh Jlono dikenal sebagai kampung toleransi. Dia mengaku, alangkah baiknya bila semua seperti Dukuh Jlono yang bisa hidup dengan berpegang kebersamaan.