Soloraya Banjir, Begini Kondisi Waduk Gajah Mungkur Wonogiri

Spillway atau pintu air utama Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri belum dibuka karena tampungan masih aman. Foto diambil Jumat (8/3/2019) siang. (Solopos - Rudi Hartono)
08 Maret 2019 19:40 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Hujan yang mengguyur dalam tempo lama pada Rabu-Kamis (6-7/3/2019) meningkatkan inflow atau air yang masuk ke Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri hingga mencapai 150,4 m3/detik.

Meski membuat debit tampungan air meningkat, waduk tersebut dipastikan masih aman. Pengelola WGM belum membuka spillway atau pintu air utama.

Seperti diketahui, hujan lebat dan lama mengguyur kawasan Wonogiri dan wilayah lain di Soloraya pada Rabu siang. Hujan tersebut membuat sungai di sejumlah daerah meluap sehingga mengakibatkan banjir di sejumlah daerah.

Data yang dihimpun Solopos.com di Kantor Sub Divisi Jasa Air dan Sumber Air (ASA) III Perum Jasa Tirta (PJT) I di Wonogiri, Jumat (8/3/2019), elevasi atau tinggi muka air (TMA) WGM pada Rabu pukul 06.00 WIB (sebelum hujan deras mengguyur) di posisi 133,78 meter soerabaia haven vloed peil (shvp).

Pada ketinggian itu outflow atau debit air yang dilepas/dikeluarkan dari waduk tercatat 11,2 m3/detik melalui pintu turbin PLTA. Saat itu inflow masih sebesar 332 m3/detik.

Pada Jumat pukul 12.00 WIB elevasi WGM tercatat 135,09 meter shvp atau naik 1,31 meter shvp daripada Rabu pagi. Pada posisi itu outflow melalui pintu turbin PLTA bisa maksimal, yakni mencapai 25 m3/detik.

Pelepasan air sebesar itu dilakukan mulai pukul 09.00 WIB. Pada saat yang sama inflow rata-rata terpantau 482,4 m3/detik atau naik 150,4 m3/detik dari pada inflow Rabu pagi. Kepala Sub Divisi Jasa Air dan Sumber Air (ASA) III PJT I, Didit Priambodo, saat dihubungi Solopos.com, Jumat, menyampaikan meski elevasi naik, tampungan WGM masih aman sehingga spillway tidak dibuka.

Elevasi pada Jumat siang itu belum mencapai batas minimal elevasi dibukanya spillway. Spillway akan dibuka jika elevasi WGM lebih dari 135,30 meter shvp.

Hal itu dengan catatan kondisi wilayah hilir normal (berdasar lokasi pantau Jurug, Solo). Apabila wilayah hilir siaga, air WGM diupayakan ditahan terlebih dahulu. Namun, apabila elevasi sudah mencapai highest water level (HWL) atau elevasi maksimal WGM, yakni 136 meter shvp, spillway tetap akan dibuka dengan menyesuaikan kondisi hilir dan inflow.

“Biasanya debit air yang dilepas melalui spillway tidak langsung besar. Debit terbesar yang pernah dikeluarkan dari WGM, yakni 200 m3/detik meski spillway bisa melepas air hingga 400 m3/detik. Kalau dikeluarkan sampai maksimal Sungai Bengawan Solo bisa meluap,” kata Didit.

Dia menjelaskan air yang dilepas WGM bukan penyebab utama banjir di wilayah hilir seperti Solo dan sekitarnya, terlebih di Jawa Timur. Penyumbang terbesar ke Sungai Bengawan Solo di kawasan Solo dan sekitarnya adalah anak Sungai Bengawan Solo, seperti Samin di Karanganyar dan Dengkeng di Klaten.

Pada posisi hujan intensitas tinggi dan tempo yang lama, kontribusi dari berbagai anak Sungai Bengawan Solo bisa mencapai 1.000 m3/detik. Pada sisi lain, air yang dilepas dari WGM hanya 200 m3/detik atau 1/5 dari akumulasi debit dari berbagai anak Sungai Bengawan Solo.

“Hal ini kami sosialisasikan terus kepada masyarakat. Selama ini masyarakat masih berpersepsi banjir di hilir disebabkan air dari waduk. Memang air lepasan dari WGM turut berpengaruh, tapi tidak dominan,” kata Didit.