Pokja Penanggulangan HIV/AIDS Kestalan Solo Sulit Awasi PSK, Ini Penyebabnya

Ilustrasi HIV - AIDS. (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)
09 Maret 2019 00:30 WIB Kurniawan Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Kelompok Kerja (Pokja) Penanggulangan HIV/AIDS Kestalan, Banjarsari, Solo, pernah menemukan lima pekerja seks komersial (PSK) di sekitar Kantor Radio Republik Indonesia (RRI) Solo terinfeksi HIV/AIDS.

Mereka terdiri atas dua PSK yang biasa mangkal di hotel kawasan itu dan tiga PSK yang mangkal di gang-gang perkampungan wilayah RW 003. Penjelasan tersebut disampaikan Ketua Pokja Penanggulangan HIV/AIDS Kestalan, B. Budi Susetyo.

“Saat pemeriksaan, ada dua WPS [wanita pekerja seks] di hotel dKelompok Kerja (Pokja) Penanggulangan HIV/AIDS Kestalan, Banjarsari, Solo, pernah menemukan lima pekerja seks komersial (PSK) di sekitar Kantor Radio Republik Indonesia (RRI) Solo terinfeksi HIV/AIDS.an tiga WPS di jalan yang positif HIV/AIDS. Kami tidak tahu persis mereka dari mana. Tapi saya pastikan saat itu mereka bukan warga Solo,” ujar dia ditemui Solopos.com, Selasa (5/3/2019).

WPS tersebut, menurut Budi, berusia kisaran 30 tahun. Sejak dibentuknya Kelompok Kerja (Pokja) Penanggulangan HIV/AIDS Kelurahan Kestalan pada 2009, kegiatan yang bersifat pencegahan penyakit itu terus digencarkan.

Apalagi saat pemerintah mengamanatkan pembentukan warga peduli AIDS (WPA) dengan menyasar kelompok risiko tinggi (risti) penularan HIV/AIDS. “Seingat saya sebelum 2017 itu belum pernah ditemukan kasus yang sama,” imbuh dia.

Budi menjelaskan setiap tahun Pokja Penanggulangan HIV/AIDS Kestalan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan para PWS. Kegiatan tersebut sekaligus diisi dengan sosialisasi agar para WPS berhati-hati supaya tak tertular HIV/AIDS.

Disinggung sikap warga terhadap keberadaan para PSK/WPS, Budi mengakui sebagian menolak atau keberatan. Bahkan warga telah bergerak dengan memasang spanduk atau MMT larangan mangkal bagi para PSK di gang-gang kampung.

Namun yang menjadi persoalan tatkala para PSK lama mulai tak lagi mangkal, muncul PSK-PSK baru yang lebih muda. Repotnya lagi, menurut dia, para PSK baru tersebut mengendarai sepeda motor dan mangkal di pinggir-pinggir jalan.

Mereka tidak menetap atau stay di hotel dengan pertimbangan tertentu. “Karena para PSK generasi baru ini mengendarai motor akhirnya petugas pun kesulitan saat akan menggerebek. Begitu tim datang mereka langsung kabur,” urai dia.

Aksi kucing-kucingan seperti itu menurut Budi telah berlangsung beberapa tahun terakhir. “Jadi modelnya mereka datang bawa motor dan menunggu lelaki hidung belang di situ. Begitu dapat tamu mereka langsung masuk hotel,” kata dia.