Belum Diresmikan, Ornamen Jembatan Tirtonadi Solo Rusak

Hiasan di pagar Jembatan Tritonadi Solo sudah hilang yang diduga akibat ulah tangan jahil. Foto diambil pada Sabtu (9/3 - 2019). (Solopos/M. Ferri Setiawan)
10 Maret 2019 08:30 WIB Candra Mantovani Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Ornamen berupa bola yang ada di jembatan Tirtonadi yang membentang di Kali Anyar, Nusukan, Banjarsari, Solo, rupanya sudah rusak padahal belum diresmikan. Beberapa ornamen tersebut sudah mulai hilang karena ulah tangan jahil, ditambah karat yang membuat ornamen tersebut rapuh.

Pantauan Solopos.com, Sabtu (9/3/2019), kondisi ornamen di jembatan Tirtonadi yang rusak tidak begitu terlihat ketika pengendara lewat. Namun, kerusakan ornamen dapat dengan mudah diketahui oleh pejalan kaki yang melintas di jembatan tersebut. Hal ini lantaran kerusakan ornamen tepat berada di sisi jalur pejalan kaki jembatan berbentuk keris itu.

Salah satu warga yang mengeluhkan rentan rusaknya ornamen di jembatan Tirtonadi adalah Haristanto. Dia mengaku baru menyadari adanya kerusakan di ornamen jembatan sejak sepekan yang lalu. Dia menyayangkan hal tersebut lantaran jembatan Kali Anyar termasuk bangunan yang baru saja selesai dikerjakan.

“Sudah sepekan yang lalu saya perhatikan kok puthul [lepas]. Saya rasa itu karena kualitas dari konstruksi besinya kurang bagus. Lasnya kurang bagus, kurang panas, jadi mudah lepas saat terkena cuaca panas dan hujan. Kemungkinan juga besinya terlalu tipis. Itu jembatan belum diresmikan tapi sudah rusak kan sayang,” bebernya, Sabtu.

Terpisah, Kasi Jalan dan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Solo Joko Supriyanto mengatakan bahwa status jembatan Tirtonadi merupakan milik Kementerian PUPR. Karena itu, pihaknya tidak mengetahui apapun terkait adanya kerusakan dan tidak bagusnya spesifikasi bahan ornamen jembatan tersebut.

“Jembatan Kali Anyar [Tirtonadi] masih milik Kementerian PUPR, belum diserahkan [ke PUPR Solo]. Sangat disayangkan juga karena kerusakan tersebut. Harusnya warga memiliki budaya memiliki sesuatu. Sehingga, bisa saling menjaga fasilitas publik. Maksudnya, jembatan ini kan milik umum, bukan milik pribadi. Jadi milik bersama harus dijaga bersama, jangan sampai rusak. Paska pembangunan tidak mungkin kontraktor ikut mengawasi,” ujarnya saat dihubungi Solopos.com.