10 Juta Liter Air Produksi PDAM Solo Hilang Dalam Setahun

Ilustrasi air bersih (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)
10 Maret 2019 23:15 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Toya Wening Solo mencatat ada kehilangan air atau non-revenue water (NRW) hingga 10,7 juta meter kubik (liter) selama 2018.

NRW adalah air yang tidak berekening, yaitu selisih jumlah air yang masuk ke sistem (suplai) dengan air yang tercetak di rekening. NRW yang terbagi menjadi tiga komponen itu mencapai 45,2 persen.

Tiga komponen itu meliputi konsumsi resmi tak berekening sebanyak 14.821 meter kubik per tahun (0,1 persen), kehilangan komersial 1,9 juta meter kubik per tahun (8,1 persen), dan kehilangan fisik sebanyak 8,7 juta meter kubik per tahun (37 persen).

Direktur Teknik PDAM Toya Wening, Triatmojo Sukomulyo, mengatakan kehilangan fisik dikarenakan kebocoran pipa transmisi, distribusi, dan pipa dinas, hingga pipa meter pelanggan, serta kebocoran atau luapan air pada reservoir. Sementara kehilangan komersial dikarenakan konsumsi air tidak resmi (ilegal), ketidakakuratan meter, ketidakakuratan pembacaan meter, serta kesalahan pengolahan data.

“Kami berupaya mengurangi kehilangan komersial dengan mengganti water meter yang umurnya di atas lima tahun secara bertahap. Tahun ini kami mengganti 6.000 unit dulu. Berdasarkan catatan, ada 36.000 water meter yang umurnya di atas lima tahun. Kemudian kami juga akan mengecek eks pelanggan PDAM, apakah dia masih menggunakan sambungan air atau tidak. Karena kalau sudah eks, kami tidak lagi membaca meteran airnya,” kata dia kepada Solopos.com, Minggu (10/3/2019).

Selain itu, PDAM juga bakal memperketat keakuratan pembacaan meter dan berburu pengguna air ilegal yang menjebol saluran tanpa melalui meteran. PDAM menargetkan kehilangan komersial itu dapat ditekan hingga dua persen per tahun.

“Termasuk dalam hal ini mencari oknum pelanggan yang mengakali water meter sehingga saat pembacaan meter angkanya selalu kecil atau tidak akurat.”

Jika Perumda Toya Wening mampu menurunkan persentase NRW setiap tahunnya, Kota Solo akan mendapat reward hibah fisik. Reward atau penghargaan tersebut masuk dalam kerangka National Urban Water Supply Project (NUWSP) yang dimotori World Bank dan Indonesia Urban Water Sanitation and Hygiene (IUWASH) Plus.

“Kami masuk ke dalam grup performance based grant atau bantuan berbasis kinerja golongan IIB yang berarti sehat. Hibah fisik tersebut salah satunya bisa digunakan untuk membuat 20an district meter area [DMA] untuk lima tahun ke depan. Seluruh reward nilai totalnya Rp40 miliar. Adanya DMA akan mempermudah tata kelola air, seperti mengecek kebocoran dan mengatur tekanan air suplai,” kata dia.

Terpisah, Direktur Utama Perumda Toya Wening Solo, Maryanto, menyebut meski persentase NRW cukup tinggi, namun tahun lalu perumda berhasil membukukan laba senilai Rp7 miliar dari target Rp6 miliar.

“Kami berharap jumlah sambungan rumah [SR] terus meningkat seiring pengoperasian Instalasi Pengolahan Air [IPA] Semanggi. Airnya bagus, besi 0, mangan-nya 0, cuma karena pipa lama masih ada kerak, kami akan bersihkan terus,” tuturnya, belum lama ini.