Pakar: Sawah Ambles di Pracimantoro Wonogiri Karena Bawahnya Berongga

Anggota TNI memeriksa lokasi tanah ambles di sebuah sawah di Dusun Salam RT 001/RW 001, Desa Wonodadi, Kecamatan Purwantoro, Wonogiri, Kamis (7/3/2019). (Istimewa/Kodim 0728 - Wonogiri)
10 Maret 2019 06:30 WIB Iskandar Wonogiri Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Amblesnya sawah di Dusun Salam, Desa Wonodadi, Pracimantoro, Wonogiri, terjadi karena daerah tersebut diduga merupakan kawasan karst. Sesuai karakteristik kawasan karst, bagian bawah tanah tersebut berongga menyerupai gua-gua.

“Rongga di kawasan karst terjadi karena adanya pelarutan gamping. Kalau di atas rongga-rongga itu ada beban berat, bisa jadi lapisan yang ada tidak kuat menyangga beban di atas sehingga ambles,” ujar Dekan Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Yuli Priyono, menjawab pertanyaan Solopos.com ketika ditemui di ruang kerjanya, Sabtu (9/3/2019).

Sebelumnya diberitakan Solopos.com, tanah di Dusun Salam, Desa Wonodadi, Pracimantoro, Wonogiri, ambles sedalam 2-2,5 meter dengan diameter 8-10 meter, Senin (4/3/2019) lalu. Tanah ambles itu diduga karena struktur tanah merah yang berongga di kawasan itu.

Lebih lanjut Yuli menduga meski secara kasat mata daerah yang ambles itu berujud sawah, di bagian bawahnya terdapat rongga. Karena itu, kawasan tersebut dinilai rentan runtuh atau ambles.

Menurut Yuli, rongga-rongga pada kawasan karst terjadi karena proses alami yang terjadi selama ribuan tahun atau jutaan tahun lalu. Dia menerangkan karst yang berujud gamping itu dulunya kawasan tersebut merupakan laut yang tanahnya terangkat ke permukaan. Namun air hujan yang masuk ke tanah mengakibatkan terjadi pelarutan.

Ketika air hilang atau kering, kawasan itu menjadi berongga atau berwujud gua. “Mungkin sekali di bawah sawah tersebut sudah terjadi rongga yang luas tapi belum terdeteksi.”

Sebenarnya, ungkap dia, lapisan gamping di pegunungan bagian selatan Jawa cukup tebal. Lain halnya dengan ketebalan lapisan gamping di Jawa bagian utara yang lebih tipis dibanding di kawasan selatan.

Kawasan utara yang tanahnya mempunyai lapisan gamping di antaranya kawasan Grobogan dan sekitarnya. Terkait amblesnya sawah di Pracimantoro, Yuli mengimbau kawasan itu tidak dijadikan sebagai permukiman penduduk.