EWS Kerap Berbunyi, Warga Terdampak Tanah Bergerak Wonogiri Belum Boleh Pulang

Personel BPBD Wonogiri memeriksa lokasi tanah bergerak di Dusun Joho, Desa Kedawung, Kecamatan Kismantoro, Kamis (21/2/2019). (Istimewa - BPBD Wonogiri)
10 Maret 2019 14:40 WIB Cahyadi Kurniawan Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Alat sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) tanah bergerak di Dusun Joho, Desa Gedawung, Kecamatan Kismantoro, Wonogiri, masih sering berbunyi. Warga belum diizinkan pulang ke rumah masing-masing.

Camat Kismantoro, Joko Purwidyatmo, mengatakan kendati tanah bergerak masih terus berlangsung, aktivitas sehari-hari warga berjalan normal. Warga bertani dan bekerja sebagaimana biasanya meski tak tinggal di rumah.

Mereka biasanya bolak-balik lokasi kerja ke posko pengungsian. Lebih-lebih saat kondisi cuaca tidak menentu, warga diminta berkumpul ke posko.

“EWS sering berbunyi artinya ada pergerakan tanah. Jadi warga belum diizinkan pulang ke rumah. Kami masih menunggu instruksi BPBD soal itu,” kata Joko saat dihubungi Solopos.com, Sabtu (9/3/2019).

Joko menerangkan ada 30 keluarga atau 80 jiwa yang mengungsi baik ke posko yang disediakan Badan Penanggulangan Bencana Daera (BPBD) Wonogiri maupun ke rumah saudara yang lebih aman. Mereka mengungsi sejak 21 Februari lalu saat tanah bergerak terjadi kali pertama pada 2019.

Terpisah, Kepala Pelaksana Harian BPBD Wonogiri, Bambang Haryanto, mengatakan BPBD terus memantau perkembangan pergerakan tanah di Joho. Warga pun masih diiminta mengungsi ke posko maupun ke tempat saudara yang lebih aman karena kondisinya belum ada perubahan.

“Posko dan penempatan personel maupun sukarelawan masih berjalan di Joho,” kata dia.

Ia menjelaskan di posko ada 23 keluarga yang mengungsi. Mereka terdiri atas 33 laki-laki, 37 perempuan, empat lansia, dua ibu hamil, dan enam anak balita serta 12 anak sekolah. “Warga juga dilarang melakukan aktivitas di lokasi yang berpotensi rawan tanah bergerak,” ujar Bambang.