Dishub Solo Ingatkan Pentingnya Toleransi Sesama Pengguna Jalan

Pengendara mobil, motor, dan sepeda berhenti saat warga penyandang disabilitas melintasi zebra cross pada simulasi acara Share The Road di Jl. Diponegoro, Ngarsopuro, Solo, Minggu (10/3 - 2019).(Solopos/Nicolous Irawan)
11 Maret 2019 04:34 WIB Ichsan Kholif Rahman Solo Share :

Solopos.com, SOLO—Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Solo mengampanyekan tentang pentingnya toleransi sesama pengguna jalan di Simpang Empat Ngarsopuro pada Minggu (10/3/2019) pagi. Acara yang mengusung tema berbagi jalan untuk keselamatan atau Share the Road itu mengajak seluruh masyarakat untuk berbagi jalan dan mengutamakan toleransi kepada seluruh pengguna jalan baik pejalan kaki, pengendara kendaraan bermotor maupun tidak bermotor.

Kepala Bidang Lalu Lintas Dishub Kota Solo, Ari Wibowo, saat ditemui Solopos.com di lokasi acara, mengatakan ruas jalan di Indonesia menggunakan jalur kiri dengan pembagian yang sudah jelas. Jalur paling kiri atau di trotoar diperuntukan untuk pejalan kaki, pengguna sepeda, dan kaum disabilitas. Sedangkan jalan raya difungsikan untuk sepeda motor dan kendaraan roda empat.

“Pembagian jalur sudah jelas jangan sampai sepeda motor melaju di trotoar. Selain itu, latar belakang acara ini beberapa kasus ditemukan kendaraan bermotor justru masuk ke trotoar sehingga menjadikan trotoar menjadi rawan kecelakaan,” ujarnya.

Ia menambahkan lewat acara itu menghadirkan berbagai komunitas seperti komunitas motor, mobil, sepeda, pejalan kaki, dan penyandang disabilitas. Deklarasi untuk saling bertoleransi antarpengguna jalan juga dilakukan dalam acara dengan bintang tamu Owah Band itu.

Kepala Dishub Solo, Hari Prihatno, mengatakan saat ini Kota Solo telah memiliki akses-akses yang ramah bagi penyandang disabilitas. Menurutnya, hampir seluruh jalan raya di Kota Solo telah dilengkapi trotoar. Namun, ia mengakui masih banyak perilaku masyarakat yang menyalahgunakan fungsi trotoar seperti parkir kendaraan dan berjualan. Maka untuk membuat fungsi trotoar optimal perlu kesadaran seluruh masyarakat. Ia menegaskan, bidang perparkiran Dishub Solo hingga saat ini bertindak tegas apabila trotoar yang berfungsi sebagai akses kendaraan tidak bermotor disalahgunakan sebagai lokasi parkir.

“Masyarakat kalau mengetahui penyalahgunaan jangan ragu untuk menegurnya. Saat ini trotoar di Kota Solo sudah cukup ideal untuk pejalan kaki. Sosialisasi dari Dishub sejak dini sudah masif dilakukan sejak dini,” ujarnya.

Terkait dengan pembenahan akses trotoar ramah disabilitas, ia akan berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU PR) untuk membenahi trotoar yang belum memiliki akses bagi penyandang disabilitas. Saat ini seluruh citywalk di seluruh Kota Bengawan telah memiliki guilding block atau penunjuk jalan bagi tunanetra.

Kasi Pembangunan Jalan dan Jembatan DPU PR Kota Solo, Joko Supriyanto, mengatakan dalam penyusunan detail engineering design perbaikan trotoar yang akan dilakukan di beberapa lokasi pada tahun ini juga mengandeng kaum disabilitas untuk memberikan masukan-masukan. Penyandang disabilitas juga dipertemukan dengan konsultan perencanaan agar seluruh proses pekerjaan dapat mengakomodir dengan baik apa yang diinginkan oleh penyandang disabilitas. Menurutnya, seluruh trotoar yang terbilang baru di kawasan Kota Solo telah dilengkapi dengan guilding block. Hanya beberapa lokasi yang belum dilengkapi namun akan segera dilakukan perbaikan.

Ketua Komunitas Pejalan Kaki Kota Solo, Probo Subianto, mengatakan fasilitas yang diberikan Pemkot Solo sudah cukup baik. Pejalan kaki merasa aman dan nyaman ketika melintas di trotoar.

Berdasarkan pantauan Solopos.com di citywalk Jl. Diponegoro Kota Solo, guilding block di kawasan itu justru sering terhalang berbagai kepentingan warga. Tumpukan rangka tenda dan pedagang kaki lima berhenti di sepanjang jalur berwarna kuning itu. Bahkan, rak sepeda milik Dishub Solo berada di pinggir jalur guilding block itu. Sehingga sepeda yang diparkir di rak sepeda akan melintang di jalur tunanetra itu.