Tanah Ambles di Pracimantoro Wonogiri Makin Dalam

Anggota TNI memeriksa lokasi tanah ambles di sebuah sawah di Dusun Salam RT 001/RW 001, Desa Wonodadi, Kecamatan Purwantoro, Wonogiri, Kamis (7/3/2019). (Istimewa/Kodim 0728 - Wonogiri)
11 Maret 2019 19:15 WIB Cahyadi Kurniawan Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Tanah ambles di Dusun Salam, Desa Wonodadi, Pracimantoro, Wonogiri, bertambah dalam menjadi lima meter. Saat ini, di sekitar lokasi tanah ambles belum dipasangi pengaman maupun pagar pelindung.

Sekretaris Desa Wonodadi, Mujiyono, mengatakan tanah ambles itu bukan sawah melainkan ladang tadah hujan yang kebetulan sedang ditanami padi. Posisi ladang itu berada sekitar 500 meter dari permukiman Dusun Salam dan posisi tanahnya lebih tinggi.

“Saya cek terakhir dalamnya sekitar lima meter. Di sekitar lokasi juga belum ada garis pengaman atau pagar karena yang ke situ hanya pemilik lahan, enggak ada orang lain. Kami masih mencari tahu siapa pemilik lahan itu,” kata dia saat dihubungi Solopos.com, Senin (11/3/2019).

Ia menjelaskan di Dusun Salam memang pernah terjadi bencana tanah bergerak. Namun, kemunculannya bergantung pada curah hujan. Pada 2017, misalnya, ada pergeseran tanah sepanjang 30 meter-50 meter di permukiman Dusun Salam.

Akibatnya, 17 rumah retak-retak. “Waktu itu warga bahkan sempat mengungsi dan banyak orang ke sana memberikan bantuan termasuk Camat dan BPBD [Badan Penganggulangan Bencana Daerah],” ujar dia.

Mujiyono menuturkan menurut informasi di bawah permukaan tanah Dusun Salam dengan kedalaman 20 meter-30 meter terdapat lumpur. Saat curah hujan tinggi, timbul retakan-retakan yang kemudian mengakibatkan tanah itu ambles.

“Di bagian paling bawah Dusun Salam juga ada sumber yang mengeluarkan lumpur bukan air,” imbuh dia.

Tak hanya itu, tanah di kawasan itu juga mengalami pergeseran 5 meter-6 meter dari posisi semula. Hal itu dilihat dari berpindahnya pohon yang tumbuh. Pohon itu tidak tumbang tapi berpindah lokasi.

Mujiyono menerangkan sempat ada wacana relokasi kepada warga Dusun Salam karena kondisi yang terjadi di sana. Namun, warga merasa keberatan meninggalkan kampung halaman. Selain itu, lokasi tujuan relokasi juga belum ada.

“Satu-satunya cara ya kami meningkatkan kewaspadaan dan antisipasi. Saat ini, kebanyak bangunan di Dusun Salam berupa tembok bukan kayu meski berada di lokasi rawan pergeseran tanah,” terang dia.

Sebagaimana diinformasikan, tanah di Dusun Salam itu ambles kali pertama pada 4 Maret lalu. Kedalaman tanah ambles itu awalnya hanya 2,5 meter dengan diameter 8 meter-10 meter.