Sragen Bangun Pusat Rehabilitasi Pengidap HIV/AIDS

Warga seputar Pasar Bunder mengikuti VCT di Pasar Bunder selatan, Jumat (3/8 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
12 Maret 2019 12:40 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN--Pemerintah Kabupaten Sragen mengalokasikan anggaran Rp350 juta untuk pendirian pusat rehabilitasi sosial khusus orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Pusat rehabilitasi itu bagian dari upaya mewujudkan three zero yakni tak ada temuan kasus HIV/AIDS, tidak ada kematian akibat HIV/AIDS, dan tidak ada stigma miring atau diskriminasi terhadap ODHA di Bumi Sukowati pada 2030.

Koordinator Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sragen, Wahyudi, mengatakan sebelumnya Pusat Rehabilitasi ODHA tersebut direncanakan menempati eks Kantor PMD di Jl. Sukowati No. 4. Rencana itu dibatalkan. Sebagai ganti, Pemkab Sragen mengalokasikan anggaran Rp350 juta dari APBD 2019 untuk mendirikan Pusat Rehabilitasi ODHA tersebut.

“Dana itu berasal dari hibah KPA. Sekarang kami masih dalam pemantapan pendirikan Pusat Rehabilitasi ODHA itu. Rencananya kami dirikan di daerah Karangmalang,” jelas Wahyudi saat ditemui Solopos.com di Sragen, Senin (11/3/2019). Dana Rp250 juta digunakan untuk membeli tanah di kawasan Karangmalang. Di lahan itu sudah ada bangunan rumah, namun masih sederhana. Sisa dana senilai Rp100 juta akan digunakan untuk merenovasi bangunan dan pembelian sarana dan prasarana.

“Karena keterbatasan anggaran, pada tahun ini, dana itu diprioritaskan untuk pembangunan fisik. Sementara biaya operasionalnya diambilkan dari iuran sukarela sukarelawan KDS [kelompok dukungan sebaya],” terang Wahyudi.

Setidaknya ada empat tantangan yang dihadapi dalam mewujudkan three zero temuan kasus, kematian dan diskriminasi terhadap ODHA di Sragen pada 2030. Empat tantangan itu adalah mobilitas populasi kunci penyebaran HIV/AIDS cukup tinggi sehingga menyulitkan pemantauan, stigma dan diskriminasi masyarakat kepada ODHA masih ada, sebagian ODHA enggan terbuka kepada orang lain dan jumlah ODHA yang mengakses antiretroviral (ARV) masih cukup rendah. Pusat Rehabilitasi ODHA tersebut diharapkan bisa menjawab tantangan dalam mewujudkan three zero pada 2030 tersebut.

“Nantinya ODHA yang terkena dampak diskriminasi akan kami berdayakan. Mereka kami dampingi, kami beri latihan keterampilan, kami tampung hingga bisa mandiri dan berdaya,” ujar Wahyudi.