Warga Kemukus Sragen Masa Bodoh Dengan Pemilu 2019

Sosialisasi Pengawasan Partisipatif yang digelar Bawaslu Sragen di kompleks Objek Wisata Religi Gunung Kemukus, Sumberlawang, Sragen, Selasa (12/3/2019). (Istimewa - Dwi Budhi Prasetyo)
12 Maret 2019 16:15 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sragen melakukan upaya jemput bola guna menyosialisasikan pengawasan partisipatif Pemilu 2019 di kawasan Objek Wisata Religi Gunung Kemukus, Desa Pendem, Sumberlawang, Sragen, Selasa (12/3/2019).

Dalam kegiatan yang diikuti sekitar 100 orang itu, Bawaslu Sragen mengajak warga setempat untuk berperan aktif dalam mengawasi pelaksanaan Pemilu 2019. Bila menemukan adanya pelanggaran pemilu, Bawaslu meminta warga melapor kepada Panwascam atau Bawaslu.

Dari hasil sosialisasi itu, kebanyakan warga di permukiman terpencil tidak tahu menahu soal Pemilu 2019. “Money politics adalah salah satu pelanggaran pemilu. Tapi, kebanyakan warga masih acuh tak acuh dengan hal itu. Mereka tidak begitu memikirkan Pemilu 2019 sehingga bila menemukan bentuk pelanggaran, mereka pun tidak tahu harus bagaimana. Kalau mau melapor pun tidak tahun harus ke mana?” jelas Ketua Bawaslu Sragen, Dwi Budhi Prasetyo, kepada Solopos.com seusai acara.

Selain masih bingung terkait apa yang harus dilakukan bila menemukan pelanggaran, warga di kompleks Objek Wisata Religi Gunung Kemukus kebanyakan juga tidak tahu bagaimana tahapan Pemilu 2019 hingga mekanisme pencoblosan surat suara.

“Mereka tidak tahu ada berapa surat suara yang harus dicoblos. Tahunya mereka pada 17 April itu ada pemilu untuk memilih presiden dan wakil presiden. Mereka tidak tahu ada lima surat suara yang harus dicoblos mulai dari surat suara pemilu presiden dan wakilnya, legislatif dari DPRD kabupaten, DPRD provinsi, DPR hingga DPD provinsi,” terang Budhi.

Budhi memaklumi jika informasi yang diterima warga Kemukus terkait Pemilu 2019 masih minim karena merupakan daerah terpencil. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Bawaslu Sragen dalam rangka memaksimalkan sosialisasi pengawasan partisipatif pemilu dalam waktu yang cukup terbatas ini.

“Salah satu program kami adalah mengadakan sosialisasi pengawasan partisipatif di permukiman terpencil dan kelompok masyarakat tertentu. Di Kemukus, kami membawa hiburan pertunjukan organ tunggal. Di Gesi kami mengadakan pentas wayang kulit. Dengan hiburan itu, kami berharap warga banyak yang datang sehingga sosialisasi bisa lebih maksimal,” papar Budhi.