Setahun Tak Ada KBM, SD di Simo Boyolali akan Ditutup

Kondisi bangunan SDN Congol Wetan di Desa Bendungan, Kecamatan Simo, Boyolali. Sekolah ini sudah tidak menggelar KBM sejak setahun terakhir dan akan di-merger pada tahun ini. Foto diambil Jumat (8/3/2019). (Solopos - Nadia Lutfiana Mawarni)
12 Maret 2019 05:00 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI—SD Negeri Congol Wetan di Dusun Congol, Desa Bendungan, Kecamatan Simo, Boyolali, diketahui tidak lagi melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM) selama satu tahun terakhir.

Dinas Pendidikan Boyolali menegaskan sekolah ini akan ditutup, bukan di-merger atau digabung. Sama halnya dengan SD Ketitang di Nogosari yang juga akan ditutup karena seluruh muridnya sudah “migrasi” ke sekolah lain.

Saat Solopos.com menyambangi SD Congol Wetan, Jumat (8/3/2019) pagi, sekolah tersebut sudah tidak lagi digunakan. Beberapa bagian bangunan bahkan terlihat roboh.

Genting tidak lagi terpasang. Sekolah tersebut memiliki lima bangunan yang berfungsi sebagai ruang kelas, ruang guru, gudang, dapur, dan kamar mandi. Sebagian di antaranya tidak memiliki pintu dan kaca jendela.

Memasuki ruang-ruang kelas, sejumlah papan tulis putih tetap digantung meskipun mengelupas. Hal serupa juga dijumpai pada papan daftar informasi siswa.

Tidak ada lagi kelas yang memiliki bangku dan meja sehingga ruangan yang berukuran sekitar 6 meter x 6 meter itu terlihat lebih longgar. Semua ruangan kosong layaknya bangunan mangkrak.

Pada pintu ruang yang menunjukkan dapur dan kamar mandi, batu-bata berserakan layaknya bangunan roboh. Di sana foto Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla masih dipajang sebagai atribut ruangan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa ruangan tidak lagi digunakan sejak tahun 2014. Padahal beberapa ruang kelas lain sudah memajang foto Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla.

Halaman sekolah becek dan ditumbuhi rumput liar setinggi kira-kira satu meter. Rumput-rumput tersebar di sebagian besar halaman sekolah yang masih berupa tanah. Ukurannya kira-kira 9 meter x 6 meter.

Lima bangunan SD Congol Wetan dibangun dengan model melingkar. Halaman sekolah terletak di tengah-tengah kompleks bangunan. Di pojok halaman dapat ditemukan satu papan nama sekolah yang dibuat dari semen.

Tulisannya Sekolah Dasar Negeri Congol Wetan Kec Simo Boyolali yang diapit dengan logo Tut Wuri Handayani dan logo Jawa Tengah. Papan itu menjadi satu-satunya petunjuk nama sekolah.

Papan lain yang lazim dijumpai di instansi pendidikan seperti Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan nomor Gugus Depan (Gudep) gerakan pramuka tidak ditemukan. Ada satu perosotan yang juga telah roboh di sudut lain halaman sekolah.

SD Congol Wetan terletak di perbatasan dusun. Untuk menuju ke sana dari jalan raya Simo-Nogosari memerlukan waktu sekitar sepuluh menit dengan kendaraan bermotor. Jaraknya sekitar 3 km dari jalan raya. Jalanan desa yag masih berupa dua beton dan perkebunan jati harus dilalui.

Seorang warga yang tinggal di samping SD, Wardi, menyebutkan terakhir beroperasi SD tersebut hanya memiliki belasan murid untuk enam jenjang kelas.

Sekolah Swasta

Sejumlah orang tua dulu sempat diberi pengarahan agar segera memindahkan anak didiknya ke sekolah terdekat. “Dulu anak saya sekolah di sana sampai 2018 kelas V, namun pindah ke MI setelah tahu akan ditutup,” ujar seorang wali murid yang enggan disebutkan namanya.

Kepala Desa Bendungan, Suratin, menuturkan penurunan minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya di SD negeri sudah terjadi sejak tiga tahun lalu.

Kasus tutupnya SD negeri di Bendungan, ujar Suratin, bukan kali pertama terjadi. Sekitar sepuluh tahun lalu, kasus serupa juga terjadi di SDN Bendungan yang merupakan SD induk di desa. “Kalau SD Congol [Congol Wetan] ditutup artinya desa sudah tidak lagi memiliki SD negeri,” ujar dia.

Orang tua, lanjutnya, lebih memilih dua sekolah swasta yang ada di desa untuk menyekolahkan anak mereka di jenjang pendidikan dasar yaitu MI Muhammadiyah Congol dan MI Muhammadiyah Wonosari. Beberapa siswa SD Congol Wetan diketahui pindah ke sekolah tersebut.

Suratin menambahkan ada sejumlah faktor yang menyebabkan dua sekolah negeri di desanya tutup. Selain pilihan SD swasta yang berkultur Islam, dirinya menyebut bahwa di Desa Bendungan warga berusia sekolah hanya berjumlah sedikit. “Total ada sekitar 200 warga Bendungan yang berusia SD,” kata dia.

Kepala Dinas Pendidikan Boyolali, Darmanto, menegaskan SD Congol Wetan akan ditutup bukan digabung atau merger. “Iya ditutup dan bukan di-merger,” ujar Darmanto.


Keputusan penutupan sekolah ini tidak akan memberatkan warga maupun orang tua siswa. Pasalnya sekolah tersebut terletak berdekatan dengan sekolah jenjang SD/sederajat di lingkungan Desa Bendungan. Saat ini, SD Congol Wetan masih menunggu SK resmi penutupan. “SK Bupati masih kami proses,” terang dia.